Sedekat Dua Ruas Jari

Panggilan Terbuka Publikasi Digital SOKONG! Edisi 16
Editor Tamu: Doni Y.H. Singadikrama

Kala itu nampaknya menjadi sebuah hari yang sungguh sial. Pagi saya disambut dengan rusaknya LCD Ipad Pro kesayangan sedari 2017, kemudian ditambah dengan bocornya ban ketika melakukan perjalanan ke mamang service. Sedikit informasi, kesedihan itu bukan jadi suatu ratapan akan hasrat kebendaan semata, tapi tanpa Ipad, saya (benar-benar) tidak bisa bekerja. Jika dirasa belum cukup, maka setelah selesai membaca ini kita bisa ngobrol berdua, saya bakal siap sedia memberi dongeng tentang bagaimana kisah asmara saya yang tak kunjung menemukan pencerahan, bisnis yang baru buka tapi sudah terdampak Covid (bangkrut), dan lain sebagainya. Akumulasi tersebut, mendramatisir imajinasiku tentang hari kiamat yang makin dekat.

Ada yang sadar? Bagaimana hari akhir itu semakin dekat? Atau sudah sangat dekat? Bagaimana kita dalam keseharian melihat berbagai ketimpangan yang bertolak belakang dengan iman yang kita pegang?

Di luar saya, tentu kita lihat bagaimana virus Covid-19 melanda penduduk bumi masih terus menjadi polemik, kebakaran hutan di Amazon, Omnimbus Law, dan yang terbaru adalah Jurrasic Park ala pulau Komodo. Atau bagi umat muslim yang menyelami bangku sekolah negeri, pasti sudah mengalaminya. Bagaimana salah satu tanda kiamat di gambarkan sebagai jumlah perempuan lebih banyak daripada jumlah laki-laki.

Wow?
Iya bagi yang mempercayainya,
iya pula bagi yang meragukannya.
Bagaimana bisa susunan gender dalam sebuah ruang menjadi representasi pertanda hari akhir? Saya juga tidak tau. Saya merasa tidak mampu memperdebatkan hal tersebut, melontarkan pertanyaan merupakan batas kemampuan saya dalam menyikapi sebuah informasi.

Paling tidak, hal tersebut merupakan representasi bagaimana dalam peristiwa sehari-hari, masing-masing dari kita dihadirkan berbagai macam peristiwa yang bertolak belakang dengan iman kita, secara khusus saya menyorot pada iman kepada hari akhir.

Kemudian muncul pertanyaan baru. Bagaimana kiat kita mempercayai hari akhir untuk kemudian tidak jadi Nihilis? Mencoba menghayati kehidupan kalau tahu semua itu akan berakhir? Tanpa dalam prosesnya mentransformasikan keimanan menjadi perasaan yang sangat kosong karena ibarat menjalani hidup bak bom waktu. Tentu tidak harus dijawab saat ini juga, sifatnya reflektif kok ;).

Lantas apa hubungannya dengan akumulasi kesialan saya secara pribadi dengan kiamat? Siapa saya menghubung-hubungkan kesialan yang saya alami dengan proses berakhirnya dunia? Siapa kamu? Dia? Atau kalian, barangkali?

Ada yang percaya bahwa semesta selalu bekerja secara berkaitan, satu sama lain? Dan masing-masing dari kita menjadi penyalur untuk mencoba menerjemahkan bagaimana semesta itu bekerja. Apa yang saya alami (kesialan) kemudian saya sikapi sebagai iman. Bahwasanya kesialan bisa terjadi kapan saja, di mana saja. Seperti halnya keberuntungan yang tidak perlu mengetok pintu rumahmu terlebih dahulu untuk hadir membawa kejutan. Dua peristiwa yang bertolak belakang tersebut mempunyai sifat yang sama, mereka akan datang dan pergi tanpa tiba-tiba. Beberapa dari kita mungkin akan peka dengan pertanda tersebut. Namun, beberapa yang lain tidak. Mungkin itulah kenapa kita akan selalu berkaitan satu sama lain.

Mengimani hal tersebut, membuat saya percaya, semua hal bisa terjadi begitu saja, atau dalam narasi yang lebih besar, hari akhir.

Sahl bin Sa’d r.a. berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah bersabda dengan dua jarinya seperti ini, jari tengah dan ibu jari, lalu bersabda, “Aku telah diutus dan kiamat seperti posisi dua jari ini.” (HR Bukhari dan Muslim).

Lewat perspektif tersebut, saya akhirnya mempercayai seberapa dekat kita pada hari akhir, Dan bagaimana kita mengilhaminya lewat tanda-tanda seperti kesialan, kehancuran, ke iri-dengkian. Namun, Ia juga memberi tanda-tanda pada cinta, kebaikan, kejujuran, dan takdir-takdir untuk bertemu orang lain dan melakukan estafet akan amanah tersebut.

Ya, hari akhir sangat dekat, entah hari ini, esok, lusa, atau bahkan 100 tahun kemudian, pokoknya, terserah kamu, Llah! Aku siap.

Karena pada akhirnya semua begitu dekat, sebagaimana dua ruas jari kita ini 🙂

– Doni Y.H. Singadikrama

Kami tunggu karya mutakhir kalian dari tanggal 9 sampai pada tanggal 30 November 2020.