Babak Akhir Cinta

Panggilan Terbuka Publikasi Digital SOKONG! Edisi 17
Editor Tamu: Abimanyu Dirgantara

Kehilangan seseorang yang memiliki ikatan yang sudah terbentuk sekian lama adalah hal baru bagi saya. Mengingat kematian adalah hal yang pasti. Menanggapi hal kehilangan ini rasanya saya sudah bersiap, saya diajarkan untuk itu oleh salah satu orang yang pada masa pandemi ini akhirnya menunggu hari perhitungannya. 

Ternyata tidak. Saat momen kehilangan itu datang, ternyata saya tidak siap.

Sedih, bingung, menyesal, rindu, sendu, sepi, perasaan-perasaan intuitif lainnya, ucapan berbela sungkawa dan dukungan yang tak henti-henti, semua itu memenuhi tubuh. Beberapa dari itu masih berada di dalam tubuh, tidak pasti sampai kapan. Yang pasti adalah mengenang sosoknya akan menghabiskan waktu seumur hidup.

Berduka bukanlah hal yang baru bagi kita. Semua orang akan mengalami, beberapa sudah. Pengalaman ini ternyata baru saya sadari mungkin terjadi tidak hanya secara personal, tapi juga secara umum. Seperti kehilangan seseorang yang kita cintai karena kematian atau mungkin juga kita berduka terhadap hal-hal di luar itu, seperti kita yang sering berduka terhadap kejadian bencana alam, hubungan romantis yang berakhir, kehilangan benda, juga pekerjaan, bahkan perasaan duka tentang ketidakpastian masa depan. Perasaan yang berlimpah-limpah itu pasti akan datang.

Banyak yang membahas tentang apa itu berduka dan bagaimana cara kita melewatinya, Lima Tahap Kedukaan—model tentang tahapan menghadapi duka— yang cukup populer menjelaskan tentang proses yang dialami selama berduka, dijelaskan bahwa kita akan berada di fase: penyangkalan, marah, menawar, depresi, dan penerimaan. Proses ini bisa jadi tidak linier, ada pula yang menambahkan tahapan lain seperti berharap, pemaknaan, bersalah, dll. Model-model ini membantu kita memahami apa yang sedang terjadi dan menjadi tahap awal untuk melalui perasaan duka. Tidak seperti peta yang akan menuntun dari awal hingga akhir karena setiap orang memiliki pengalaman dan latar belakang yang berbeda. Tentu setiap orang akan memiliki dan menemukan tahapnya masing-masing.

Love is pain and suffering, love can be a lonely thing..”. Mengutip penyanyi duo asal Norwegia, Kings of Convenience, memang sepertinya cinta akan membawa kita ke perasaan-perasaan lainnya, tidak terkecuali luka dan penderitaan.

Perasaan dan ketertarikan terhadap sesuatu sepertinya adalah sebuah perjalanan yang melewati banyak hal dari mengenal, mencari tahu, terlibat, dan seterusnya. Seperti segala hal di dunia ini yang memiliki akhir, bagi saya berduka adalah bagian di mana kita menghadapi bagian terakhir dari cinta.

Untuk yang pernah, sedang, dan akan berduka, tidak untuk membuka dan mengorek luka, saya menunggu cerita kalian dalam menghadapi babak terakhir cinta, untuk sama-sama mencari tahap-tahap penyelesaian, juga untuk bersama saling menguatkan. 

– Abimanyu Dirgantara

Kami tunggu karya mutakhir kalian dari tanggal 13 September sampai pada tanggal 13 Oktober 2021.