Awas Aman! Di sini kurang aman!

Gambar Sukaduka
Ilustrasi oleh Gambar Sukaduka

Suatu malam, sambil memejamkan mata, saya membayangkan sedang main petak umpet dengan perasaan-perasaan saya.

Senang hilang dan hinggap tanpa tertangkap.

Sedih menyergap dari belakang.

Malu bersembunyi di balik Marah.

Harap mesra bersama Kecewa.

Takut merengek mencari Aman.

Namun di mana rasa aman? Tidak pernah ada yang melihat wujudnya, mendengar suaranya, maupun merasakan hadirnya.

*

Buat saya, kerapkali rasa aman baru hadir dalam wujud bunga tidur. Ketika terbangun, saya sebagai bagian dari kelompok minoritas seksual yang hidup di negara ini, mesti menghadapi kenyataan bahwa hak-hak saya sebagai warga kian jauh dari perlindungan.

Bagaimana tidak? Sepanjang tahun ini, kekerasan dan persekusi terhadap kelompok minoritas seksual dan gender malah meningkat. Dari mahasiswa yang terancam sanksi akibat tersebarnya video mereka berciuman; intimidasi terhadap aktivis pers kampus yang mempublikasikan isu LGBT, kekerasan terhadap transpuan yang direkam dan disebarkan, sampai perpres yang menyebutkan LGBT sebagai ancaman non-militer. Selama ini sudah ada berbagai peraturan yang kerap digunakan untuk mengkriminalisasi kelompok minoritas gender dan seksual, tetapi saat ini ancaman kriminalisasi terasa semakin nyata.

Ketika membaca dan memaknai peristiwa-peristiwa tersebut, saya menyadari yang sedang terancam tidak cuma hak-hak sipil, tetapi juga ruang untuk membayangkan masa depan yang lebih baik. Bagaimana seseorang bisa menjalin relasi, merencanakan hidup, atau bahkan sekadar memperkenalkan diri, jika keberadaan dirinya dianggap sebagai ancaman?

*

Ketika ruang aman belum bisa dijumpai ketika terbangun, barangkali yang bisa dilakukan adalah memimpikannya. Kedengarannya mungkin remeh-temeh. Namun, gagasan pergerakan, angan-angan tentang keadaan yang lebih baik, kesemuanya muncul dari ruang imajinasi. Seiring bergulirnya waktu dan pengalaman hidup, jika dirawat, angan tentang keadaan yang lebih baik itu perlahan menjadi gagasan yang matang. 

Medium teks memungkinkan gagasan dituliskan, diperdebatkan, direvisi, diterbitkan, lalu beredar melampaui ruang dan waktu. Ia membuat pengalaman dapat terus dibaca, dipertanyakan, dan dihidupkan kembali. Produksi pengetahuan melalui penerbitan tidak sebatas pembuatan dan penyebaran “konten”, tetapi juga perawatan gagasan dan angan yang menghidupkannya.

Salah satu terbitan yang belakangan menemani saya memikirkan rasa aman adalah zine we all need A SAFE SPACE (2023). Saya menemukannya di sebuah festival zine yang diadakan mandiri di tengah-tengah pasar loak. Zine tersebut dibuat secara kolektif oleh sebelas individu dari beragam latar belakang, memuat pandangan serta pengalaman mereka tentang rasa aman.

Melalui karya kolase dan tulisan, mereka menjawab pertanyaan tentang arti ruang aman, tempat seseorang merasa menjadi dirinya sendiri, dan batas-batas yang perlu dinegosiasikan dengan orang lain. Salah satu jawabannya mengingatkan saya bahwa membangun ruang aman juga berarti mencari tahu kebutuhan diri sendiri sekaligus belajar berkompromi dengan orang lain.

Saya memaknai zine itu sebagai sebuah peta kecil: peta yang tidak menunjukkan jawaban tentang apa itu rasa aman, tetapi titik-titik awal untuk mulai mencarinya. Deretan pertanyaan tersebut membawa saya kembali mengingat bagaimana dulu saya berusaha memahami diri sendiri.

Tanya-jawab dari zine we all need A SAFE SPACE, ketika pertanyaan menjadi peta.

*

Sejak remaja, saya merasakan ketertarikan fisik terhadap sesama laki-laki. Namun, karena saya dibesarkan oleh seorang ibu yang taat beragama, saya terbiasa menutupi dan menekan dorongan-dorongan ketubuhan saya. Di sekolah, saya diajari tentang bagaimana ketertarikan dengan sesama jenis kelamin merupakan penyimpangan, bukannya variasi.

Seiring berjalannya waktu, saya berupaya memahami diri dan orientasi seksual saya melalui bacaan dan tontonan yang saya dapatkan. Saya mendapatkan ide tentang bagaimana menjadi gay, dari serial televisi Six Feet Under. Saya membayangkan bagaimana suatu hari, seperti David, saya akan menjalin hubungan dengan orang yang cukup sabar seperti Keith, dan tinggal bersamanya di rumah yang interiornya membumi. Dari buku kumpulan cerpen Edmund White, Skinned Alive, saya menyadari betapa hasrat kepada laki-laki bisa menjadi hal yang indah; bahwa kejujuran itu sulit, tapi ungkapan perasaan yang jujur akan selalu menyentuh. Pengalaman saya memahami orientasi seksual saya awalnya bersumber dari teks.

Suatu hari, saya diundang seorang teman saya untuk mengikuti inisiatif belajar bersama tentang keberagaman, terutama keberagaman orientasi seksual dan gender, di kota tempat tinggal saya dulu.

Kala itu saya menyaksikan sendiri usaha untuk menghadirkan rasa aman bagi peserta yang mengikuti kegiatan tersebut. Undangan disebarkan secara personal. Jika tertarik, orang yang diundang bisa memberi konfirmasi kehadirannya. Lalu menjelang hari H, barulah undangan akan menerima detail tentang di mana kegiatan belajar akan dilakukan.

Ruang belajar kami berpindah-pindah. Kami belajar di kafe, di restoran, di aula galeri seni. Di ruang-ruang yang dibayangkan kembali fungsinya itu, kami mempelajari berbagai hal. Mulai dari kesehatan reproduksi, body image, sampai feminisme dan pergerakan transpuan. Kami juga belajar dengan kesenian; membuat kolase dan puisi eksperimental. Saya juga ingat, kami pernah belajar tentang ‘politik’ istirahat, lalu mengakhiri kegiatan belajar dengan menari sambil menutup mata. Keberagaman ini menyenangkan, sekaligus menunjukkan bahwa kerumitan hidup bukan sesuatu yang harus disederhanakan.

Peserta kegiatan ini beragam; tidak terbatas orang-orang yang mengidentifikasikan dirinya dalam huruf L, G, B, T, atau Q, tetapi juga terbuka kepada siapa pun yang tertarik mempelajari keberagaman. Sesi diskusi selalu membuka kesempatan bagi peserta menyimak sudut pandang yang berbeda. Secara bertahap, saya mulai membongkar rasa tidak aman yang terinternalisasi bahwa orientasi gender dan seksual yang berbeda adalah penyimpangan.

Ketika menyimak cerita kawan-kawan, saya menyadari betapa rasa aman bisa berarti berbagai hal. Sifatnya bisa material sekaligus emosional. Aman bisa berarti bekerja dan berekspresi tanpa takut kehilangan mata pencaharian; bisa juga meminta pertolongan tanpa takut penolakan. Rasa aman membuat seseorang berani mengakui kesalahan dan meminta maaf; serta menyayangi dan menerima cinta.

Saya mulai memahami betapa pengalaman sebagai minoritas gender dan seksual tidak pernah tunggal. Setiap orang membawa kerentanan yang berbeda, tergantung tubuh, kelas sosial, pekerjaan, keluarga, dan pengalaman hidupnya masing-masing.

Dalam kehidupan sehari-hari, berbagai kebutuhan akan rasa aman itu sulit terpenuhi sekaligus. Terlebih ketika institusi yang diamanatkan menjaga keamanan, mulai dari institusi publik sampai keluarga, tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Dalam ruang privat maupun publik, rasa aman seperti keping-keping yang berserakan. Sedikit demi sedikit, keping-keping itu harus dikumpulkan dan disusun kembali. Kami mesti belajar berhitung dan menentukan mana yang lebih penting untuk saat ini: kebutuhan mengekspresikan diri atau keamanan finansial? Ungkapan cinta secara terbuka atau keamanan ruang hidup? dan masih banyak lagi.

Kehadiran kelompok belajar ini membantu saya memahami posisi saya sebagai bagian dari kelompok minoritas seksual. Lebih jauh lagi, mendorong saya bertanya: apa hubungan hidup saya dengan kehidupan yang lebih luas? Kehadiran ruang belajar merupakan salah satu sistem pendukung, di samping kehadiran teman-teman, konsultasi dengan psikolog, dan obrolan yang jujur dengan keluarga saya. Kurangnya rasa aman di ruang publik membuat proses pemahaman itu dilakukan di ruang-ruang privat.

Perjumpaan saya dengan kelompok belajar, meski tidak selamanya, menyadarkan saya bagaimana kehidupan yang satu senantiasa berhubungan dengan kehidupan yang lain; bahwa kehidupan yang dirawat di ruang privat bisa berdampak pada ruang publik; bahwa merawat diri, berarti juga merawat yang lain; bahwa salah satu hal terbaik yang bisa kita lakukan kepada orang lain adalah memberikan ruang untuk bertumbuh menjadi dirinya sendiri.

*

Setengah tahun ini, saya mendapat kemujuran menghuni tempat yang bisa saya atur sendiri. Berhadapan dengan ruang yang sebelumnya kosong, saya bertanya-tanya, apa yang membuat sebuah ruang menjadi tempat yang cukup aman dan nyaman untuk saya sebut sebagai rumah.

Mulanya, saya kira akan merasa betah setelah mengisi ruangan itu dengan semua barang yang saya inginkan. Namun keinginan tidak pernah ada habisnya, berbalik dengan uang yang bisa saya belanjakan. Saya justru merasakan kenyamanan di rumah ketika bisa menerima teman-teman yang mau berkunjung; ketika dalam ruang yang privat kami bisa berbagi cerita yang menyedihkan sebagaimana juga yang menggembirakan. Saya juga senang ketika bisa berbagi masakan sesuai selera dan bahan-bahan di kulkas. Saya bersyukur ketika dalam keterbatasan ternyata masih ada hal yang bisa dibagi.

Saya juga bisa menentukan sendiri ritme kegiatan di rumah; kapan waktunya menyapu dan mengepel, mencuci baju dan menyetrika, mencuci piring dan menyiram tanaman. Pelan-pelan, saya menata kembali barang-barang dari masa lalu; saya ingat-ingat kembali ceritanya, dan menarik hubungannya dengan saat ini. Lalu, sambil beristirahat, saya membayangkan masa depan saya.

Di satu sisi, saya menyadari kehadiran ruang aman secara fisik itu penting; ruang yang cukup terbuka untuk diri sendiri sebagaimana adanya. Namun di sisi lain, saya juga menyadari betapa ruang seperti ini tidak bisa diakses oleh semua orang yang memerlukan.

Saya pikir, rumah bisa menjadi perumpamaan tentang ruang aman yang dibutuhkan oleh kelompok-kelompok minoritas untuk mengenal dan menjadi dirinya sendiri. Ketika ruang-ruang tersebut terus dibatasi, seseorang yang merupakan bagian dari kelompok minoritas akan kesulitan untuk memahami dan berkembang sesuai jati dirinya. Kelompok-kelompok yang terpaksa bersembunyi, akan kesulitan membayangkan makna hidupnya, bagaimana hubungannya dengan lingkungan dan masyarakat di luar dirinya.

Ketika ruang seperti itu tidak tersedia, kebutuhan untuk merasa aman tidak hilang. Ia hanya mencari jalan lain untuk terpenuhi. Dalam memenuhi kebutuhan seksualnya, bisa jadi seorang minoritas menggunakan ruang-ruang yang tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan seksual.

Di tempat tinggal saya, misalnya, pada jam-jam tertentu fasilitas sauna dikunjungi orang-orang yang melempar berbagai macam kode, mulai dari tatapan mata, mengusap selangkangan, sampai memuji bentuk tubuh. Awalnya, saya bersikap masa bodoh dengan tindak-tanduk itu. Saya berada di ruang sauna karena ingin bersauna, bukan untuk yang lain. Namun, lama-lama saya melihat bahwa jarak antara diri saya dan orang-orang itu tidak sejauh yang semula saya bayangkan.

Dalam ruang sosial yang lebih luas, belum banyak tersedia ruang yang memungkinkan kebutuhan kelompok minoritas seksual dan gender—antara dua orang dewasa yang saling menyetujui—dapat dibicarakan dan dipenuhi secara aman. Walhasil, orang-orang berusaha memenuhi kebutuhan jasmaninya melalui ruang-ruang yang bisa mereka akses.

Maka sauna menjadi tempat orang mencari sesamanya, yang tahu sama tahu apa kebutuhannya, dan mengusahakan cara memenuhinya. Ketika suatu malam seseorang menyentuhkan jemari kakinya ke jemari kaki saya, saya membiarkan jemari saya tetap di sana.

Selepas sauna, terbersit di benak saya bagaimana ruang sauna tidak lantas menjadi ruang aman. Apa yang baru terjadi tidak lahir dari rasa aman yang sesungguhnya, tetapi dari sempitnya pilihan.

Pengalaman itu membuat saya memikirkan kembali betapa rasa aman tidak hanya persoalan ruang pribadi, tetapi juga bagaimana masyarakat berbagi ruang bagi kelompok di luar dirinya untuk hidup.

*

Mencari rasa aman di antara judul-judul buku kajian queer.

Sebagaimana hidup, pergerakan memiliki tantangan dan risikonya. Di satu sisi, visibilitas penting untuk menumbuhkan kepedulian. Di sisi lain, rasa aman menjadi taruhannya. Bagaimana menjadi terlihat dan terbuka, ketika hal tersebut seringkali malah mengundang kerentanan?

Di Indonesia, penerbitan telah lama menjadi salah satu cara kelompok minoritas seksual untuk merawat dan menemukan satu sama lain. Pada dekade 1980-an, Lambda Indonesia menerbitkan buletin Gaya Hidup Ceria. Di dalamnya terdapat tulisan mengenai homologi, cerpen, sampai iklan jodoh. Sumber bacaan seperti itu sekarang bisa saya akses dengan internet. Namun, bagi generasi sebelum saya, yang hidup berjauhan dan belum mengenal komunitas kwir di kotanya, Gaya Hidup Ceria barangkali bukan cuma bacaan, melainkan juga menjadi penanda bahwa mereka tidak sendirian.

Saat ini, berbagai penelitian mengenai keragaman gender dan seksualitas di Nusantara juga terus diterbitkan. Sejumlah penelitian itu ditulis oleh orang yang lahir dan besar di Indonesia. Sebagian penulisnya juga mengidentifikasikan diri sebagai bagian dari minoritas seksual dan gender. Tulisan mengenai bissu di Sulawesi Selatan, warok-gemblak di Ponorogo, calabai, calalai, maupun praktik gender lain menunjukkan satu hal: keberagaman gender telah lama hadir di Nusantara. Keberagaman tersebut ada jauh sebelum istilah LGBT dikenal luas. Pengetahuan juga tumbuh melalui fiksi dan puisi yang menghadirkan pengalaman hidup dari sudut pandang tokoh-tokoh kwir. Saat ini kwir masih terasa queer di telinga saya. Namun, mungkin tak lama lagi ada kata yang mendarat lembut di berbagai telinga.

Penerbitan menjadi cara melawan apa yang disebut Saskia E. Wieringa sebagai post-colonial amnesia: yaitu keadaan ketika sejarah keberagaman disingkirkan melalui warisan pengetahuan kolonial.

Kini, kerja penerbitan tidak lagi berhenti pada buku atau buletin cetak. Arsip digital, zine daring, podcast, hingga unggahan media sosial memungkinkan pengalaman yang dulu mudah hilang menjadi bisa ditemukan kembali. Ketika satu pintu ditutup, ada orang-orang yang berupaya membukakan jendela pengetahuan. Sebagian memproduksi pengetahuan dari masa sekarang; sebagian yang lain merawat pengetahuan dari arsip, lalu menghadirkannya kembali dalam konteks masa kini.

Di saat bersamaan, distribusi pengetahuan juga melintasi batas negara. Perkembangan teknologi informasi memungkinkan organisasi dan komunitas minoritas seksual dan gender di berbagai negara saling berbagi pengalaman, strategi, dan pengetahuan. Terbitan, arsip digital, maupun media daring menjadi jembatan yang menghubungkan perjuangan. Pengetahuan tidak lagi bergerak dari satu mata angin. Di Asia Tenggara, sejumlah organisasi menyelenggarakan program residensi, serta festival seni dan budaya yang tertuju bagi partisipan dari negara-negara di kawasan ini, memungkinkan kita saling mengenal dan saling berbagi perhatian.

Perkembangan produksi dan distribusi pengetahuan juga diikuti oleh kemunculan klab-klab baca. Membaca dan bertukar gagasan menjadi kegiatan yang makin lumrah dilakukan bersama-sama. Pengalaman dan kerentanan hidup yang dihadapi minoritas seksual dan gender mungkin terasa berat jika dihadapi sendiri. Namun, barangkali lebih ringan ketika didiskusikan dalam obrolan santai di kedai, dengan cemilan dan minuman kesukaan. Kegiatan ini juga bisa menjadi cara memupuk solidaritas.

Mengikuti pergerakan kelompok minoritas gender dan seksual, saya semakin menyadari betapa perjuangan generasi saya bukan perjuangan yang baru. Jika dulu referensi saya tentang menjadi minoritas seksual sangat mengacu pada David dan Keith dari serial Six Feet Under. Sekarang saya mendapat idola baru: Zareen (The Minor Saint of Collective Space), Vinaigrette (The Minor Saint of Derelict Buildings), sampai Chu Zuo Ci (The Minor Saint of Ugly Foods and Discards). Mereka adalah tokoh-tokoh pergerakan kelompok minoritas dalam The Book of Sainted Aunts karya Anna Onni. Buku ini pertama kali diterbitkan di acara Southeast ASEAN Queer Cultural Festival 2021.

Produksi pengetahuan merupakan cara mempertahankan keberadaan. Pengalaman yang tidak direkam lebih mudah dihapus. Sejarah yang tidak diterbitkan, dibaca, dan dipertanyakan kembali lebih mudah dilupakan. Masa depan adalah sesuatu yang perlu dipikirkan dan dihadapi bersama-sama. Ketika penguasa berusaha mengendalikan arus informasi dan mengancam ruang berpikir, produksi pengetahuan mandiri menjadi semakin penting untuk dijaga. Kita perlu memutuskan mana yang perlu didahulukan di antara:

a) kepanikan moral,
b) keadilan sosial,
c) kerusakan ekologis,
d) aesthetics, atau
e) …………………. (isi sesuai situasi politik dan peluang funding)

Apa pun pilihan kita, kita perlu menyadari bahwa menyuarakan kepedulian merupakan hak, meski kita didesak bersembunyi dalam sunyi. Menunjukkan diri dengan jujur memang terasa menakutkan, tetapi mungkin pertaruhan itulah yang mesti dilalui untuk menuju kehidupan lebih baik.

*

Rasa aman bisa jadi bukanlah keadaan mutlak, melainkan negosiasi terus-menerus antara imajinasi, komunitas, ruang hidup, memori, dan diri sendiri. Dalam hidup, selalu ada ancaman yang tidak semua bisa dihapuskan. Namun kita tetap bisa menjalani hidup dengan menyadarinya, sambil merawat cara-cara untuk menghadapinya.

Pengetahuan mungkin tidak serta-merta membuat kita aman. Namun ia membantu kita saling menemukan, saling mengenal, lalu belajar saling menjaga.

Barangkali, rasa aman dan saya memang tidak sedang main petak umpet. Ia tidak bersembunyi dan menunggu ditemukan. Ia dibangun bersama oleh orang-orang yang saling menjaga agar semua bisa hidup sebagai dirinya sendiri.

Mungkin Aman selalu didahului oleh Kasih.

Gambar Sukaduka adalah seorang zinester yang merekam kisah sehari-hari yang ia harap bisa menerbitkan tawa dan air mata. Selama membuat zine, momen yang paling membuatnya bersemangat adalah ketika bisa melapak. Sementara itu, yang paling membuatnya kewalahan adalah hari-hari jelang tenggat waktu pengumpulan karya. Ia senang berkenalan dan bertukar pikiran dengan pembaca, dan bisa disapa via IG @gambar.sukaduka

Memuat data buku...

Daftar Buku Saya (0)

Memuat wishlist...