Kurator dan kurasi (dan kritik) fotografi di Indonesia

Peran seorang kurator dapat dibandingkan dengan seorang kritikus, yang bertugas menjembatani pemirsa kepada pameran secara keseluruhan atau suatu karya di dalamnya. Kritik di sini bukanlah menghakimi atau mengejar kelemahan belaka, melainkan sebuah upaya untuk memahami karya melalui analisis dan evaluasi.

Baca lebih lanjut »

Merangkai foto, menjalin cerita

Saya rasa, ini ada hubungannya dengan kuatnya kecenderungan fotojurnalisme di dalam praktik fotografi di Indonesia. Padahal, cerita foto juga dapat dibuat dengan pendekatan subjektif atau personal, ataupun memakai penuturan fiksional. Kisah foto yang demikian masih belum banyak diteroka.

Baca lebih lanjut »

Au Loim Fain, Romi Perbawa

Berita tentang Pekerja Migran Indonesia tidaklah sebanyak berita-berita pembangunan dan berita politik lain. Ironi, mengingat Indonesia masih melihat mereka sebagai pahlawan devisa. Lewat buku ini, saya diajak untuk melihat lebih banyak. Terlebih mendapati hal yang lebih jarang lagi saya ketahui, lapis dua permasalahan besar yang bertaut dengan isu Pekerja Migran Indonesia, yakni perihal keluarga, khususnya anak-anak dari para pekerja migran.

Baca lebih lanjut »

Salah kaprah keberaksaraan visual

Yang kerap terlupakan di dalam membaca gambar adalah, bahwa makna tidak melekat pada gambar itu atau sudah ada sejak dari ‘sananya’. Sebaliknya, makna hadir di dalam kesadaran kita selaku pemandang, baik sebagai kelompok maupun—terutama—sebagai pribadi yang berpikir. Makna, dengan demikian, bersifat asosiatif (kita yang menautkan gambar itu dengan suatu makna tertentu), referensial (makna tidak lepas dari hal lain yang dijadikan rujukan), dan kontekstual (makna dapat berubah bila kerangka acuannya diganti).

Baca lebih lanjut »

Meriwayatkan Jarak dan Rembulan yang Terserak, Aji Susanto Anom

Menggunakan fotografi sebagai perangkat tulis jurnal, Aji, sekali lagi, meneruskan langgam dokumentasi personal yang menjadikan keluarga sebagai pusat domestikasi kehidupan sehari-hari. Menggunakan foto hitam-putih, Aji menggubah berbagai ungkapan simbolis melalui rekaman langsung peristiwa dan suasana lingkungan sehari-hari. Foto-fotonya memanfaatkan citraan alam sebagai proyeksi kerinduan terhadap pasangan hidup.

Baca lebih lanjut »

Membicarakan fotografi dengan menulis

Kecenderungan fotografi sebagai dokumen (merekam) kerap pula dipandang berseberangan dengan kecenderungan fotografi sebagai seni (mencipta), padahal mungkin tidak mesti begitu (dapatkah fotografi seutuhnya mencipta dan sepenuhnya tidak merekam; atau haruskah seni selalu disamakan dengan mencipta?).

Baca lebih lanjut »

Pesta dalam Kamera 72 Frame

Cetakan foto dengan butiran film kasar terpajang dalam sebuah kafe yang dipenuhi anak-anak muda kelas menengah saat gelombang pandemi masih merangkak naik. Cetakan yang menampilkan dokumentasi dari praktik mengarsip party scene dalam pameran PM-AM dikerjakan secara kolektif oleh Post Party Syndroma.

Baca lebih lanjut »

Seputar Tirakat Qolbee Maliki

Aku melihat retrospeksi lebih seperti tindak merefleksikan masa lalu. Mengunjungi kembali sebuah situs penting dalam sejarah hidupku. Penelaahan pengalaman. Aku hidup sekitar tujuh tahun di pesantren. Usiaku sekarang 22 tahun.

Baca lebih lanjut »

Mencoba Membaca Serangkai Ironi

Apa yang bisa ditawarkan oleh sebuah, serangkai, atau setumpuk foto? Bisa saja kita berharap untuk mengubah keadaan. Terlalu egois sekiranya jika aku berharap keadaan mereka menjadi tidak lebih baik. Namun, di luar itu, Zulkifli bagiku berhasil memberikan pengalaman yang lain dalam melihat situasi yang pelik. Ironis sekaligus memuaskan.

Baca lebih lanjut »