‘Mandiri’ dalam Penerbitan Mandiri: Sejarah Personal

Gambar Sukaduka
Ilustrasi oleh Gambar Sukaduka

Waktu masih kecil, saya pernah bertanya kepada ibu saya, “Mandiri itu apa?”

Kala itu saya masih dimandikan, kalau makan perlu disuapi, sebelum tidur mesti ditemani pipis dan dicucikan kakinya. Mama menjawab, “Bisa mandi sendiri.”

Puluhan tahun berlalu sejak percakapan tersebut. Selama itu, ternyata saya terus mencari tahu apa makna kemandirian. Lama-lama  saya bisa mandi tanpa diingatkan; menyiapkan makanan sendiri. Saya berusaha berdisiplin kapan waktunya tidur dan kapan bangun; kapan bekerja dan kapan bermain. Selepas sekolah, saya mulai mencari uang sendiri. Lalu tidak tinggal lagi bersama ibu saya. Saya belanja barang kebutuhan sendiri, serta belajar membedakan mana keinginan dan mana kebutuhan.

Kerapkali dalam memaknai kemandirian, saya merasa berjarak dengan orang tua saya. Ketika bertumbuh, pelan-pelan saya menyadari tidak semua pertanyaan bisa dijawab oleh mereka. Situasi yang saya hadapi berbeda dengan situasi yang mereka hadapi ketika seumuran saya. Saya berkesempatan menjalani kehidupan yang tidak dialami ibu saya. Saya bisa belajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, berbeda dengan ibu saya yang dilarang ibunya belajar Jurnalistik karena dulu konon jurusan itu masuk Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Nenek melarang anak-anaknya mendekati perpolitikan, sehingga anak-anaknya kebanyakan masuk Fakultas Ekonomi. Jika dulu Kakek dilarang mertuanya bermain gitar, sejak kecil saya boleh les musik dan menggambar. Bisa dibilang ruang memaknai kemandirian itu tidak sepenuhnya saya dapatkan sendiri, tetapi juga dimungkinkan orang-orang di sekitar saya, termasuk orang tua saya. Lalu terbersit pertanyaan, “Apakah mandiri memang berarti melakukan semua-muanya sendiri?”

***

Keluarga kami berlangganan majalah Bobo. Salah satu yang mendorong saya untuk segera bisa membaca adalah keinginan membaca halaman Cerpen sendiri. Setelah saya bisa membaca, segera saja buku dan majalah menjadi kesayangan saya. Awalnya saya membaca untuk menemukan kesenangan, untuk menemukan cerita-cerita yang menyisakan rasa bahagia setelah tamat dibaca. Namun, lama-lama bacaan memberi berbagai hal yang sebelumnya tidak terbayangkan. Dunia bacaan menawarkan imajinasi dan gagasan yang bisa saya telusuri sendiri, yang tidak selalu sama dengan yang saya hidupi bersama keluarga dan orang tua saya. Membaca membuat saya meragukan nilai-nilai yang diyakini orang tua saya, sekaligus menumbuhkan kemungkinan yang lain. Membaca membantu saya memahami pengalaman dan perasaan saya ketika menghadapi hal yang ketika itu sulit saya ceritakan.

Barangkali hal yang tersulit untuk saya ceritakan kepada Mama adalah bahwa saya adalah anak laki-lakinya yang jatuh cinta kepada sesama laki-laki. Bisa dibilang ibu saya adalah seorang religius, yang bahasa cintanya adalah mengingatkan untuk beribadah. Hal kedua tersulit untuk diceritakan: saya tidak merasa terpanggil untuk memaknai hidup dengan praktik beragama. Perlu waktu belasan tahun sampai saya bisa menceritakan hal-hal yang mendasar itu kepada ibu saya. Pada tahun-tahun itu, bacaan tidak hanya menjadi sumber kesenangan, tapi juga menjadi sumber keselamatan. Di tengah-tengah masyarakat yang merepresi minoritas seksual, bacaan menghubungkan saya dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman hidup yang tidak membuat saya merasa sendirian. Dari buku yang saya temukan di toko buku bekas yang ada di dekat kampus, saya menemukan bacaan tentang bagaimana seorang minoritas seksual menavigasikan hasrat serta kesehatan fisik dan mentalnya. Buku-buku itu membuat saya bisa membayangkan tentang kehidupan yang ingin saya jalani, yang rasanya mungkin tercapai ketika saya bertahan hidup dan belajar mengatakan terus terang kehidupan apa yang ingin saya jalani.

***

Saya mulai senang menulis ketika mengerjakan tugas pelajaran Bahasa Indonesia di SMP. Saya belajar di sebuah sekolah negeri di Magelang. Murid-murid belajar dari buku teks yang dipinjamkan perpustakaan sekolah. Buku tulis yang banyak kami gunakan bermerk 555. Buku ini dijual di toko sekolah dengan hanya 500 rupiah. Kertasnya yang tipis, kalau ditulisi dengan pulpen, tintanya menerawang ke halaman di baliknya.

Suatu hari, kami belajar menulis paragraf pengandaian. Saya lupa bagaimana penjelasan persis guru kami, tetapi yang saya tangkap, salah satu cara menulis paragraf ini adalah menuliskan beberapa kalimat yang memuat keadaan yang kadung terjadi, lalu mengakhirinya dengan kalimat pamungkas yang diawali kata sambung bersifat pengandaian. Misalnya begini:

Kemarin sebagian besar uangku kubelikan buku. Kini sisanya hanya lima ratus. Roti cokelat pedagang keliling ini dijual seharga lima ribu. Saking tergesa-gesanya aku berangkat, di rumah tadi aku melewatkan sarapan. Sekarang perutku keroncongan. Seandainya uangku cukup, tentu sudah kubeli roti itu tanpa harus terbayang-bayang bagaimana rasanya. 

Saya terkesan dengan bagaimana kalimat-kalimat di awal paragraf, yang awalnya seolah berdiri masing-masing, ternyata bisa saling terhubung dan memperkaya makna satu sama lain setelah ‘digandeng’ dengan kalimat pamungkasnya. Kalimat-kalimat itu merupakan prakondisi dari munculnya suatu pengandaian. Saya baru menyadari bahwa angan-angan tidak muncul begitu saja, tetapi setelah diawali serangkaian keadaan ‘kurang menguntungkan’. Keadaan kurang menguntungkan ternyata melahirkan imajinasi tentang keadaan yang lebih baik.

***

Saya melanjutkan SMA ke kota Bandung. Pertengahan dekade 2000-an, di sana bermunculan ruang literasi independen, yang mengadakan berbagai program yang bisa diikuti gratis. Saya menemukan sebuah toko buku indie di dekat sekolah. Toko ini rutin mengadakan kegiatan belajar bersama dalam bentuk klab. Ada banyak klab, mulai dari klab merajut, klab origami, klab nonton film, termasuk juga klab menulis. Karena senang menulis, saya mulai rutin datang ke pertemuan klab menulis. Dalam klab itu, ada seorang fasilitator mengajak para peserta untuk menulis bersama-sama dalam durasi tertentu. Kami menulis dengan merespons prompt atau tema yang sudah disiapkan fasilitator. Setelah waktunya habis, kami membacakan tulisan masing-masing dan saling menyimak tulisan satu sama lain. Kegiatan ini membuat saya terbiasa menulis, tanpa perlu khawatir tulisannya nanti jelek atau bagus. Saya juga jadi terbiasa berbagi tulisan dan belajar dari umpan balik sesama peserta. Saya sendiri belajar menulis kalimat singkat, supaya saya tidak terengah-engah ketika membacanya.

Suatu hari, saya melihat sebuah pengumuman di perpustakaan indie yang sering saya kunjungi. Ada program gratis meminjam koleksi perpustakaan bagi anggota yang menulis resensi. Koleksi perpustakaan itu terdiri dari buku, film, dan rekaman musik. Waktu itu, saya sedang senang-senangnya menonton film. Saya pun menulis resensi film, supaya bisa meminjam film yang lain secara gratis. Sejak ada program itu, saya menonton film dengan niat untuk mengulasnya. Saya berusaha mengingat baik-baik setiap kali menemukan sesuatu yang berkesan tentang film itu. Saya mencoba menyadari rasa yang muncul ketika menonton film, dan mencari tahu dari mana asalnya.

Lambat laun membaca dan menulis jadi bagian tidak terpisahkan dari keseharian saya. Namun, saya belum bisa sepenuhnya menulis apa yang ingin saya tulis. Rasanya selalu ada batasan yang membuat saya tidak bisa menceritakan pengalaman hidup saya secara terbuka. Dalam klab menulis ada batasan tema dan waktu. Sementara itu, dalam resensi, ada batasan intensi. Saya rasa ketika membaca resensi film, pada dasarnya seseorang hanya ingin tahu apakah filmnya perlu ia tonton atau tidak. Padahal banyak hal di benak saya yang terpantik ketika menonton film. Tidak semuanya bisa dibagi dalam tulisan berbentuk resensi. 

Sampai kemudian, saya berjumpa dengan suatu komunitas korespondensi analog, yang biasa berkirim benda pos dengan perangko. Beberapa dari kami berkirim benda pos, termasuk di antaranya surat dan kartu pos, yang desainnya kami buat sendiri. Berbekal lem dan peralatan menjahit, saya merangkai kertas bekas, benda temuan, tulisan, rongsokan, sampai gambar menjadi surat yang dikirimkan kepada teman-teman. Saya kerap membayangkan bagaimana jika barang-barang yang nyaris jadi sampah itu ternyata punya kehidupan berikutnya, yang berbeda dari tujuan awal pembuatan barang-barang itu. Sekeping DVD bajakan bisa menjelma jadi surat berisi kenangan tentang film yang tidak bisa saya tonton lagi. Sampel material pembungkus sofa bisa menjadi cover buku-buku surat mungil berisi berbagai peristiwa yang saya jumpai sehari-hari.

Dalam surat-surat itulah saya kemudian menemukan kebebasan menuliskan semua yang saya ingin tuliskan. Saya bisa menulis sepanjang atau sependek apa pun, dengan isi yang melompat-lompat, antara cerita personal dan hal-hal yang faktual. Surat-surat itu tidak pernah saya bebani hal yang perlu direspons segera; ada email, instant messenger, dan telepon untuk keperluan mendesak. Surat-surat itu dikirim dengan layanan pos yang tidak tercatat, sehingga selalu ada kemungkinan bahwa surat itu tidak sampai kepada penerimanya. Itu tidak jadi masalah. Saya seperti mengirimkan pesan dalam botol, yang belum tentu dibaca orang lain, tapi yang terpenting memuat ungkapan diri saya sebagaimana adanya.

Buat saya menulis kadang terasa seperti menelanjangi diri, seolah saya melucuti berbagai lapisan yang membungkus diri. Daripada mengisi halaman kosong, yang lebih sulit bagi saya adalah menemukan ruang di mana saya bisa bertelanjang dan menunjukkan ketelanjangan saya dengan aman.

***

Menyadari kecintaan saya pada dunia literasi, selepas lulus kuliah saya mencari pekerjaan yang berhubungan dengan bacaan dan penerbitan. Saya mendapat pekerjaan di sebuah penerbit yang menerbitkan bacaan dalam bingkai keber-agama-an. Saya bekerja sebagai editor naskah di redaksi remaja. 

Selama bekerja di penerbit, saya berhadapan dengan kenyataan bagaimana bacaan diolah menjadi komoditas. Sebuah buku dinilai bukan cuma dari gagasan di dalamnya, melainkan juga bagaimana buku itu diserap oleh pasar. Tugas editor tidak hanya membidani buku yang gagasannya baik, tapi juga menemukan buku yang angka penjualannya melambung. Kenyataan itu sulit saya terima. Saya percaya, tidak ada satu pun orang yang bisa memprediksi apakah sebuah buku akan laris manis atau menumpuk di gudang. Daripada mengejar naskah yang ‘diprediksi’ best seller, bagi saya lebih penting mengerjakan naskah dengan gagasan yang relevan dengan realitas yang dihadapi pembaca. Namun, itu juga sulit dilakukan karena ada tema yang tidak diperkenankan untuk terbit di sana.

Ketika remaja cara saya memandang dunia berubah seiring dengan berkembangnya tubuh saya. Muncul hasrat seksual, kesadaran bahwa saya memiliki orientasi seksual yang berbeda. Saya mengalami kehilangan bapak saya di usia pra-remaja. Masa remaja bisa dibilang sebagai masa di mana saya mulai sensitif terhadap keretakan antara imajinasi dan realitas saya. Namun, tidak semua pengalaman bertumbuh itu mendapatkan ruang dalam naskah-naskah yang saya kerjakan di redaksi.

Meski memiliki angan tentang buku yang ingin saya baca ketika remaja, saya kesulitan mewujudkannya karena tempat kerja saya sudah punya sistem dan kepercayaannya sendiri, yang mengatur mana bacaan yang bisa terbit dan yang tidak; mana bacaan yang bisa diterima masyarakat dan yang tidak. Idealisme saya tentang penerbitan buku berhadapan dengan batasan yang terasa picik dan terlalu tunduk pada logika pasar. Setelah bekerja di penerbit itu selama lebih dari dua tahun, saya berhenti dengan nyaris kehilangan kesenangan membaca.

***

Selepas bekerja di penerbit, saya mendapat pekerjaan di sebuah ruang baca alternatif. Ruang itu berawal dari sebuah perpustakaan, tapi kemudian mengadakan juga kafe dan toko buku. Di sana saya mengerjakan berbagai pekerjaan yang bisa saya kerjakan: mulai dari mempromosikan koleksi perpustakaan, mempublikasikan barang-barang jualan, mengadakan diskusi buku, memesan barang-barang yang dijual di toko, sampai menjadi kasir. 

Saya merasa masa-masa itu merupakan saat di mana menumbuhkan kembali kecintaan saya terhadap dunia literasi. Meskipun bekerja di sana belum menyediakan jenjang karir, saya justru menemukan sesuatu yang sebelumnya hilang: rasa memiliki dan diterima dalam pekerjaan saya. Ketika bekerja di perpustakaan, saya mendapat akses membaca dan mengulas buku. Kesempatan tersebut saya gunakan untuk lebih jauh mencari tahu tentang diri saya sendiri, dan bagaimana relasi saya dengan sistem tempat saya dilahirkan.

Keterbatasan yang saya hadapi di penerbit memunculkan pertanyaan, “Sejak kapan penerbitan bacaan di Indonesia begitu dibatasi?” Ketika membaca sejarah penerbitan di Indonesia, saya bisa memahami mengapa sulit sekali menerbitkan bacaan yang relevan dengan realitas sosial. Sejak era penguasa kolonial, ada berbagai usaha penerbitan bacaan yang mendorong munculnya kesadaran kelas, lewat surat kabar-surat kabar, maupun bacaan yang dibagikan kepada para buruh. Namun usaha tersebut dari waktu ke waktu dibatasi oleh penguasa. Pada dekade 1920-an, muncul istilah ‘Bacaan Liar’ yang digunakan Balai Pustaka untuk menyebut bacaan yang diproduksi oleh kaum pergerakan yang dianggap mengganggu ketertiban. Buku Bacaan Liar (Razif, Penerbit Beruang, 2021) memaparkan dalam beberapa peristiwa bagaimana penerbitan bacaan berkembang menjadi pemogokan kerja, dan berujung pada larangan pencetakan.

Terkait kontrol atas bacaan remaja, dalam penelitiannya, Children’s Stories and the State in New Order Indonesia (Children and the Politics of Culture, Princeton University Press, 2025) antropolog Saya Sasaki Shiraishi, menulis pada dekade 1970-an, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mensponsori produksi buku-buku bacaan anak yang sesuai dengan ideologi yang ingin disebarkan oleh penguasa. Ketika itu bacaan menjadi barang yang mewah bagi sebagian besar keluarga di Indonesia. Penguasa mendanai penerbit yang memproduksi buku-buku ‘instruksi presiden’ dengan nilai-nilai yang dibenarkan oleh pemerintah. Akibatnya buku anak menjadi sangat didaktik, tidak mendorong pembaca untuk berpikir kritis. Sejumlah penerbit kemudian memproduksi bacaan sekiranya ‘disetujui’ oleh pemerintah. Hal-hal yang dianggap bisa mengguncang ‘stabilitas nasional’ dihindari.

Ketika saya belajar di sekolah negeri, kadang guru meminta kami membaca buku-buku paket dan buku bacaan anak yang ada di perpustakaan sekolah. Buku ‘instruksi presiden’ masih mendominasi buku koleksi perpustakaan. Apa yang saya baca terasa berjarak dengan kenyataan. Ketika bacaan yang ada memberikan tafsir yang seragam, angka melek huruf mungkin meningkat, tapi ruang untuk memahami realitas yang kompleks menjadi terbatas. 

Pada era Orde Baru, lahir kelas menengah yang di antaranya berasal dari pegawai negeri dan pegawai Badan Usaha Milik Negara yang mampu membeli bacaan untuk anak-anaknya. Saya lahir dalam kondisi tersebut. Muncul pasar baru, yang kemudian dilayani oleh penerbit yang memiliki modal untuk memproduksi bacaan yang sesuai dengan selera kelas menengah. Mereka bisa membeli bacaan yang lebih bervariatif daripada bacaan yang ditawarkan oleh perpustakaan sekolah, dan punya referensi baru. 

Pasca-1998, muncul pelaku literasi independen yang menerbitkan naskah-naskah yang sulit diterbitkan pada masa sebelumnya. Hal ini didukung perkembangan teknologi cetak yang memungkinkan orang-orang untuk mencetak bacaan dengan biaya yang relatif terjangkau. Kemunculan pelaku literasi independen menjadi alternatif bagi produksi pengetahuan arus utama. Pengalaman saya tinggal di Bandung memungkinkan saya mengalami subkultur literasi dan penerbitan independen dari jarak dekat.

Menyimak sejarah tersebut, saya menyadari bahwa selama ini saya tidak berdiri sendirian. Saya merupakan bagian dari sejarah penerbitan pengetahuan. Semua yang terjadi dalam hidup saya tidak pernah terlepas dari latar belakang saya dan situasi yang terjadi pada saat itu. Tumbuh angan-angan untuk menerbitkan cerita pengalaman hidup saya yang bisa dibaca oleh orang-orang. Apa yang saya alami sekarang bisa jadi diperlukan oleh generasi yang lahir setelah saya; sama halnya dengan saya yang menjadikan pengalaman generasi sebelumnya sebagai sumber pengetahuan. Berdasarkan kemampuan dan sumber daya yang saya miliki, saya mulai memproduksi zine dan mendistribusikannya.

***

Februari lalu saya pergi ke Bandung untuk melapak di Bandung Zine Fest. Saya menginap di rumah ibu saya. Mama sudah membaca zine saya.  Ketika tahu bahwa zine itu ada festivalnya, ia penasaran untuk mengunjungi. Di sana, Mama melihat berbagai zine beranekarupa, Keesokannya ia bertanya, “Jadi zine itu sebetulnya apa sih?”

“Publikasi mandiri,” jawab saya. “Pengetahuan yang direkam dan disebarluaskan secara mandiri.”

“Kalau prosesnya dilakukan sama-sama, kenapa disebut mandiri?” tanya Mama.

Saya termenung.

Mungkin sejak awal kemandirian bukan berarti sendirian.

Gambar Sukaduka adalah seorang zinester yang merekam kisah sehari-hari yang ia harap bisa menerbitkan tawa dan air mata. Selama membuat zine, momen yang paling membuatnya bersemangat adalah ketika bisa melapak. Sementara itu, yang paling membuatnya kewalahan adalah hari-hari jelang tenggat waktu pengumpulan karya. Ia senang berkenalan dan bertukar pikiran dengan pembaca, dan bisa disapa via IG @gambar.sukaduka

Memuat data buku...

Daftar Buku Saya (0)

Memuat wishlist...