Dua tahun pandemi dan cita-cita lama

Oleh Budi N.D. Dharmawan

Foto oleh Budi N.D. Dharmawan

Pandemi dan perpustakaan mini

Kalau diperhatikan, sejumlah kegiatan yang saya lakukan sejak wabah COVID-19 melanda tidak terlepas dari buku-buku yang saya punya. Saya sendiri malah baru menyadarinya belakangan, ketika ditanya oleh Bung Pras, yang rupanya mencurigai adanya keterhubungan itu. Saya tidak terlalu memikirkannya, sebab bagi saya, peristiwa-peristiwa itu rasanya mengalir saja. Gara-gara pandemi, saya menjadi jarang sekali bepergian. Di rumah, saya kini punya lebih banyak waktu untuk mengakrabi kembali buku-buku yang saya miliki (saya menyebutnya perpustakaan mini). Dari situ, sejumlah gagasan bermunculan, meski tidak semua dapat diejawantahkan.

Ini semua berpangkal pada awal pagebluk, bulan ini dua tahun lalu. Ketika itu, Kelas Pagi Yogyakarta (KPY) Angkatan 9 baru saja melaksanakan pertemuan perdana. Wabah datang, sehingga mereka tidak dapat bertemu lagi hingga menjelang akhir tahun. Untuk mengisi kekosongan, saya menawarkan kelas daring, dengan mengembangkan materi sejarah fotografi dari pertemuan perdana tadi. Saya coba mengupas perkembangan fotografi di luar wacana arus utama, di antaranya sekilas sejarah fotografi di Indonesia, kiprah juru foto perempuan, serta juru foto Asia dan Afrika. Bahannya saya kumpulkan dari buku yang saya punya dan internet.

Kelas sisipan itu berlangsung setiap Selasa pagi, dengan siaran langsung lewat Instagram KPY dan diikuti tanya jawab lewat Instagram pribadi saya. Saya menghentikannya setelah empat kali, lantaran saya kurang persiapan dan kehabisan bahan. Tidak saya duga, tawaran spontan tersebut ternyata meninggalkan bekas bagi diri saya sendiri, baik terkait topiknya (fotografi nonteknis), bahannya (buku yang saya punya), maupun caranya (medium daring). Menjelang akhir 2020, saya pun menjelajahi ketiga hal itu lebih jauh dengan membuat sejumlah rintisan, seperti membuka perpustakaan mini, memulai kelompok belajar Serina, dan menulis secara berkala semacam ini.

Yang pertama saya lakukan ketika muncul kembali, sesudah undur diri dari mana-mana sejak usai mengisi kelas sisipan KPY9, adalah turut merayakan Hari Buku Foto Dunia pada Oktober 2020, dengan mempresentasikan sepilihan buku foto milik saya yang bertema Indonesia, melalui Instagram. Saya memperluas gagasan itu pada November 2020, dengan membuka perpustakaan mini saya untuk dikunjungi, namun secara terbatas, karena masih pandemi. Koleksi buku foto saya jauh dari istimewa dan tidak seberapa, jadi yang saya promosikan adalah beberapa buku teks tentang fotografi (nonteknis) yang saya punya. Dari situ, saya lantas terpikir memprakarsai Serina.

Niat membuat kelompok belajar fotografi nonteknis sebetulnya sudah lama saya endapkan, namun saya tunda-tunda. Pengalaman membicarakan sejarah fotografi untuk kelas sisipan KPY9 mengilhami saya untuk mematangkan gagasan yang kemudian menjadi Serina. Saya juga berkaca, di antaranya, dari klub baca cerita yang saya ikuti dengan beberapa teman pada awal pagebluk dan sebuah klub baca fotografi di Skotlandia yang sempat saya masuki, keduanya lewat Zoom. Semula saya ingin mengadakan Serina di perpustakaan mini agar mudah mengakses buku, tetapi karena pandemi, kelompok belajar Serina pun berlangsung daring lewat Zoom sejak Desember 2020.

Buku dan sejarah

Sewaktu saya mulai belajar fotografi pada awal abad ke-21, buku foto jarang ada dan cukup sulit dijangkau. Oleh karena itu, saya kemudian terdorong untuk membeli buku, khususnya pada 2011–2014, setelah mendapat penghasilan dari fotografi dan dapat mengunjungi beberapa toko buku yang koleksinya memanjakan mata (dan menguras dompet), seperti di Singapura, Kuala Lumpur, dan Bangkok. Beberapa kali, saat belanja buku, saya menawari teman-teman kalau ingin menitip dibelikan. Saya sempat membayangkan mau membuat perpustakaan yang dapat dikunjungi teman-teman. Niat ini saya pendam lama. Buku pun hanya saya tumpuk di rumah.

Belakangan, buku foto lebih mudah diakses. Perhatian terhadap buku foto meningkat, makin banyak rekan juru foto yang membuat buku, dan pembelian (dalam atau luar negeri) pun dapat dilakukan secara daring—meski daya beli masyarakat barangkali tetap tidak terlalu baik, sebab harga buku foto memang cenderung mahal. Sementara itu, saya tidak lagi bepergian dan sudah jarang membeli buku. Keinginan membuat perpustakaan agak memudar. Lagipula, banyak teman yang koleksi bukunya lebih lengkap dan lebih bagus daripada saya. Akan tetapi, toh kini saya tetap membuka perpustakaan mini, untuk sekadar mewujudkan cita-cita lama saya tadi.

Buku foto pertama saya yaitu Ansel Adams and the Photographers of the American West (Eva Weber, 2002), yang saya beli di Gramedia pada 2003 sebab judulnya menyebut Ansel Adams. Nama itu rasanya wajib ditengok oleh orang yang baru belajar fotografi semacam saya. Buku itu besar, tebal, dan terbungkus plastik. Setelah saya buka di rumah, ternyata isinya bukan cuma foto-foto, melainkan juga esai-esai sejarah. Fotonya tidak cuma karya Ansel Adams, namun juga Timothy O’Sullivan, Edward S. Curtis, William Henry Jackson, Eadweard Muybridge, Dorothea Lange, John Vachon, Russell Lee, Arthur Rothstein, dan lain-lain—yang masih asing bagi saya saat itu.

Buku foto Indonesia pertama saya yakni Samudra Air Mata (2005), yang berisi foto-foto peristiwa tsunami Aceh Desember 2004 hasil liputan sejumlah pewarta foto Indonesia dan disunting oleh Oscar Motuloh. Saya membelinya ketika buku itu diluncurkan di Togamas—dengan dibarengi pameran foto, jika saya tidak keliru. Di situlah kali pertama saya berjumpa Oscar Motuloh. Pada masa itu, nama Oscar Motuloh telah melegenda di jagat fotografi Indonesia lewat karya-karyanya, seperti Nyanyian Periferal dan The Art of Dying, di samping juga kiprahnya di Galeri Foto Jurnalistik Antara—yang menjadi rajin menerbitkan buku foto setiap tahun sejak saat itu.

Kala itu, buku foto belum menjadi sesuatu yang punya nilai khusus atau digemari seperti kini—setidaknya bagi saya. Saya membeli buku karena ingin melihat suatu karya atau seorang juru foto secara lebih menyeluruh, tidak hanya sebagai suatu gambar atau sebuah nama yang berdiri sendiri. Buku menghadirkan konteks, umpamanya dengan menampilkan suatu foto bersama serangkaian atau sepilihan foto lain yang turut menjadi bagian dari karya seseorang, juga menyertakan teks yang menerangkan perihal foto itu dan pembuatnya. Itu sebabnya sejumlah buku di perpustakaan mini saya condong bercorak sejarah—walau tidak melulu tentang sejarah.

Teori dan wacana

Rasa penasaran saya melebar ke segi-segi nonteknis lainnya. Hal ini juga merupakan kegelisahan lama saya yang kembali mengemuka. Buku teks yang membicarakan fotografi pertama saya yaitu Semiotika Negativa (St. Sunardi, 2002). Buku ini berisi ulasan kritis tentang Camera Lucida, karya lama Roland Barthes yang sering disebut bacaan wajib juru foto. Saya membelinya pada 2002 dan menjadi penasaran dengan semiotika, sebagai sebuah cara untuk membaca foto. Sekitar masa itu, semiotika (visual) sedang menjadi topik hangat obrolan juru foto Tanah Air, meski seingat saya, kebanyakan memakai istilah itu sebagai olok-olok saja (“Fotomu ini semiotikanya bagaimana?”).

Pada waktu itu, membicarakan semiotika disebut “hampir terlambat”, sebagaimana dapat dibaca di dalam Pengantar Penulis Semiotika Visual (Kris Budiman, 2004). Menurut Budiman, semiotika telah diperkenalkan oleh profesor sastra A. Teeuw pada akhir 1970-an, kendati dia mengakui, baru belakangan dia mengetahui istilah semiotika visual. Seno Gumira Ajidarma, yang menulis Sambutan untuk Semiotika Visual, lantas menerbitkan tesis filsafatnya menjadi Kisah Mata (2005). Buku yang langsung saya beli ini memaparkan, pembacaan (atau pembermaknaan) foto dapat dilakukan bukan hanya lewat semiotika (visual), melainkan ada sejumlah jalan (atau teori) lain.

Saya tidak langsung paham isi buku-buku tersebut dan baru mengerti setelah membaca berulang kali. Saya memaksa diri membacanya karena ingin belajar membaca foto. Akan tetapi, keinginan itu muncul dari rasa penasaran saja dan belum berakar kuat. Ketika itu, saya juga bergiat di dalam berbagai bidang selain fotografi, seperti seni rupa dan festival seni, film dan festival film, desain grafis, kearsipan, kajian budaya, teater, dan sebagainya. Saya lalu lebih banyak bekerja sebagai juru foto dan cukup sering bepergian. Baru kemudian saya terdorong untuk kembali membaca dan belajar wacana fotografi, yang tidak terasa ternyata telah saya tepikan selama beberapa tahun.

Terpapar bidang-bidang selain fotografi turut meluaskan cara pandang dan keingintahuan saya, khususnya terkait irisan bidang-bidang tersebut dengan fotografi. Saat itu, saya cukup sering berjumpa dengan kurator, sejarawan, dan peneliti, sehingga makin ingin belajar segi nonteknis fotografi. Oleh karena itu, sewaktu saya berkesempatan membeli cukup banyak buku, khususnya pada 2011–2014, saya juga membeli beberapa buku teks tentang fotografi—yang kemudian saya pakai untuk promosi perpustakaan mini dan ikut mengilhami kelompok belajar Serina. Yang membuat penasaran, saya belum menemukan wadah untuk memuaskan keingintahuan itu.

Kalau diperhatikan, sejumlah kegiatan yang saya lakukan sejak wabah COVID-19 melanda tidak terlepas dari kelanjutan upaya saya mencoba mencari ruang itu. Di dalam proses tersebut, saya pun bertemu beberapa orang yang punya keingintahuan serupa. Bung Pras salah satunya. Di dalam salah satu kunjungannya ke perpustakaan mini menjelang akhir 2020, di samping melongok beberapa buku teks tentang fotografi yang tertata di rak, dia juga menyampaikan ketertarikannya bergabung dengan kelompok belajar Serina, sekaligus mengundang saya menulis secara berkala semacam ini. Akhirnya, apakah cerita ini menjawab pertanyaanmu, Bung Pras?

Yogyakarta, Maret 2022