Membicarakan fotografi dengan menulis

Oleh Budi N.D. Dharmawan

Foto oleh Budi N.D. Dharmawan

Saya tidak membayangkan, bahwa suatu hari saya akan menulis tentang fotografi. Oleh karena itu, di dalam tulisan ini, dapatlah digambarkan, bahwa saya sesungguhnya sedang bercermin, untuk sekadar berupaya membicarakan mengapa saya menulis tentang fotografi.

***

Saat saya mulai belajar fotografi kira-kira dua dasawarsa yang lalu, ketertarikan saya adalah membuat foto dan menjadi juru foto. Setelah saya mulai serius mendalami fotografi, khususnya dokumenter dan jurnalisme, sesekali saya menuangkan isi pikiran dengan menulis blog, menggunakan layanan LiveJournal dan Multiply. Kala itu, saya menulis untuk berbagi pandangan, bukan karena ingin menjadi penulis, meski juga bukan lantaran iseng belaka. Tulisan-tulisan lama saya itu tidak terarsipkan, seiring dengan terhapusnya blog saya dari dunia maya (padahal, konon Internet selalu mengingat).

Saya sudah lupa, apa saja yang pernah saya tulis kala itu. Yang saya masih ingat, salah satunya saya pernah menulis soal “kamera profesional”. Ketika masih belajar, saya sendiri penasaran dengan “kamera profesional”, sebab saya tidak punya. Saat mulai menekuni profesi juru foto, saya sadari, bahwa “kamera profesional” hanyalah sejenis mitos, yang digelembungkan untuk keperluan berjualan. Kamera jenis ini memang keren, juga mumpuni dan mahal, sehingga banyak dimiliki justru oleh orang yang bukan juru foto profesional (istilah “profesional” sendiri pun masih sering disalahpahami).

Kebanyakan senior dan rekan kerja saya di lapangan memakai kamera jenis lain, yang lebih terjangkau. Biarpun begitu, mereka tetap dapat menghasilkan foto-foto yang baik. Demikianlah, saya bermaksud mengajak para pembaca yang budiman untuk tidak terus-terusan disilaukan oleh mitos “kamera profesional” dan mengoptimalkan kamera apa pun yang dimiliki. Tulisan-tulisan saya masa itu kira-kira bercorak seperti itu.

***

Saya masuk ke fotografi dari sisi praksis, sebab itu saya akrab dengan obrolan seputar teknik dan praktik. Ketika itu, saya tidak banyak membicarakan hal-hal nonteknis (maksudnya, di luar soal teknis membuat foto). Di satu sisi memang pengetahuan saya hanya ala kadarnya, sementara di sisi lain saya sendiri jarang menemui percakapan yang demikian, untuk dapat menambah asupan pengetahuan saya. Sumber informasi yang arahnya ke sana pun masih jarang dan sukar diakses (pada waktu itu, internet masih relatif muda dan media sosial belum ada).

Bacaan yang umum bagi penggemar fotografi di Yogyakarta kala itu di antaranya majalah FotoMedia (terbit bulanan pada 1993–2003), majalah National Geographic bekas edisi lama (banyak dijual di kios loak dekat Beringharjo dan Kantor Pos Besar), pustaka fotografi keluaran Time-Life atau Kodak (saat itu menjadi harta karun yang diincar banyak orang, terlebih lagi jika serinya lengkap), serta terbitan apa pun yang mencetak nama Henri Cartier-Bresson (1908–2004) dan The Decisive Moment-nya atau Ansel Adams (1902–1984) dan Zone System-nya.

Kontes Salonfoto Indonesia mencetak katalog setiap tahun penyelenggaraannya, yang hingga pertengahan dasawarsa 2000-an dikirimkan gratis kepada setiap peserta, walaupun yang bersangkutan fotonya tidak terpilih oleh juri. Sayembara World Press Photo juga hingga menjelang akhir dekade 2000-an melayangkan katalognya dari Amsterdam secara cuma-cuma kepada seluruh kontestan. Beberapa jilid buku tahunan itu dapat ditemukan di perpustakaan lembaga kebudayaan Belanda Karta Pustaka (tutup pada 2014, setelah beberapa kali berpindah tempat, terakhir di Suryodiningratan).

Nama cendekiawan Susan Sontag atau Roland Barthes jarang sekali lewat di ruang dengar saya; apalagi isi buku dan pemikiran mereka. Buku teks tentang fotografi ataupun buku fotografi sama langkanya—rasanya bukan soal keberadaannya, melainkan soal ketersediaan dan keterjangkauannya. Di tengah kekeringan itu, maka tidaklah mengherankan, jika kehadiran buku Kisah Mata oleh Seno Gumira Ajidarma, yang terbit pertama di Yogyakarta pada 2005, lumayan memicu kehebohan pada kalangan penggemar fotografi masa itu.

Dengan fotografi sebagai objek kajian, karya tulis Ajidarma ini sejatinya bukanlah teks tentang fotografi, melainkan sebuah tesis guna menuntaskan studi ilmu filsafat penulisnya (saya kutip dari tulisan pengantar: ‘karena itu cara penulisannya “pura-pura ilmiah”’), yang lantas dibukukan untuk “umum” dengan sentuhan ulang (‘agar menjadi “pura-pura populer”’). Kendati demikian, buku ini—yang telaahnya antara lain meminjam pemikiran Susan Sontag dan Roland Barthes—menjadi salah satu bacaan yang kemudian membuat saya semakin penasaran dengan pembicaraan fotografi dari sisi nonteknis.

Saya merasa penasaran, karena saat membaca-baca Kisah Mata tidak lama setelah buku itu pertama diterbitkan, sejujurnya saya tidak kunjung mengerti maksud isinya ☺︎. Biarpun begitu, saya terdorong untuk terus coba memahaminya. Seingat saya, Ajidarma sendiri pernah pula menyampaikan keheranannya, lantaran bukunya itu disebut sebagai bacaan untuk juru foto, padahal isinya kajian filsafat, bukan tentang membuat foto.

***

Soal-soal nonteknis fotografi, khususnya—namun tidak terbatas pada—pembermaknaan, bukan saja tidak lumrah, melainkan juga ternyata mengundang pertanyaan. Suatu kali, saya bertanya tentang semiotika kepada Kris Budiman. Dia menulis buku Semiotika Visual, yang terbit pada 2004, dengan tulisan pengantar bernada hasutan oleh Ajidarma. Budiman menjawab dengan bertanya balik, untuk apa juru foto belajar semiotika. Pertanyaan sejenis itu pernah pula saya dengar diungkapkan oleh beberapa juru foto, sewaktu mereka diajak mengobrolkan semiotika atau hal-hal nonteknis lainnya.

Budiman melanjutkan, juru foto belajarlah membuat foto sebaik-baiknya saja, biarlah semiotika menjadi pelajaran bagi para pembaca foto. Saya sempat berpikir, bahwa omongan ini ada benarnya. Sebab kenal baik dengan Budiman, saya bisa menangkap, bahwa ujaran itu merupakan suatu sindiran. Sesudah saya jelaskan, bahwa saya juga ingin belajar membaca foto, barulah dia bersedia mengajari saya.

Yang lantas menggelitik saya adalah, siapakah yang dimaksud sebagai “pembaca foto”. Saya tidak terlalu memikirkan ini sebelumnya. Sebagai juru foto, perhatian saya lebih terarah ke membuat foto. Selaku pewarta foto, fokus saya lebih tertuju ke cerita yang ingin saya sampaikan lewat foto itu. Bahwa foto itu nantinya akan dibaca dengan cara tertentu oleh orang tertentu, rasanya seperti sudah (ter-)jelas(-kan) dan (ter-)pasti(-kan), atau seakan-akan sudah semestinya begitu, sehingga malah tidak terlalu saya pusingkan.

Yang juga saya sadari kemudian, bahwa makna tidaklah melekat pada suatu foto, melainkan hadir di kepala subjek. Di dalam Kisah Mata, Ajidarma membedakan subjek menjadi dua: subjek-yang-memfoto (objek) dan subjek-yang-memandang (foto). Makna yang muncul di kepala kedua subjek itu pun barangkali (atau malah sudah pasti?) tidak sama. Terlebih lagi, jika foto itu lalu diletakkan di semesta yang lebih luas dan dipertemukan dengan “pembaca foto” yang lain, dengan latar belakang dan kepentingan masing-masing, di lokasi yang terpisah dan pada kesempatan yang berjarak pula dari konteks semula. Secara keseluruhan, ada berapakah kemungkinan penafsiran dan makna yang dapat terbentuk dari sebuah foto?

Yang kemudian jadi soal, penafsiran yang bagaimanakah yang dapat dipertanggungjawabkan. Siapa pun yang dapat melihat boleh menafsir menurut cara dan pemahamannya sendiri. Kalau begitu, “pembaca foto” bisa jadi amat majemuk, dari khalayak (yang kerap dibayangkan tunggal, padahal sesungguhnya amat beragam) yang menyimak sambil lalu sampai pembaca yang sengaja menafsir dengan kacamata (keilmuan) tertentu. Akan tetapi, pembaca dan pembacaan yang bertanggung jawab dan dengan demikian, dapat menjadi titik tolak perbincangan yang produktif dan bermakna, rupanya dirasa masih minim.

Di dalam beberapa percakapan fotografi nonteknis (pernah ada juga, walau jarang) yang sempat saya ikuti, persoalan kurangnya ragam pembaca dan pembacaan yang produktif dan bermakna ini ikut muncul, dilengkapi dengan perbandingan terhadap ekosistem fotografi di daerah-daerah lain yang dianggap sudah lebih mapan. Walau pembandingan semacam ini belum tentu sahih ataupun kontekstual, namun saya bisa menyepakati, bahwa kita tidak punya cukup kurator atau kritikus fotografi, umpamanya, untuk dapat membuat praktik (di dalam) ekosistem kita menjadi lebih beragam. Atau juga editor, galeri, dan penerbit fotografi, untuk sekadar menyebut contoh lain.

Saya kira, kita tidak cukup beragam, karena kebanyakan orang memang lebih suka memilih jalur ke arah yang sama, yaitu menjadi juru foto. Jika semua orang beramai-ramai membuat foto, maka siapakah yang lantas akan menikmati, mengapresiasi, atau mengobrolkan foto-foto yang mereka buat dan segi-segi lain yang berkaitan dengan itu?

Dunia fotografi kita menjadi cenderung jalan di tempat (terlihat bergerak, padahal tidak ke mana-mana), salah satunya karena kurangnya pembicaraan ini, sebagai akibat dari kurang majemuknya pelaku yang mau membicarakannya. Minat untuk menjajaki pilihan jalur selain menjadi juru foto belum banyak bermunculan, lantaran wacana dan wahana yang mendukung minat itu, sependek pengetahuan saya, juga belum banyak dikembangkan.

***

Pada rentang waktu selanjutnya, saya membuat blog baru menumpang layanan WordPress—masih aktif hingga kini. Di situ, di samping unggahan-unggahan lain, saya juga menulis beberapa pengalaman di balik layar dari penugasan fotografi yang telah saya kerjakan. Saya ceritakan dari awalnya, prosesnya, sampai pandangan pribadi saya terhadap penugasan tersebut. Sebetulnya, saya sudah mulai berbagi cerita penugasan saat masih menulis di Multiply. Namun, saya hanya menulis beberapa fragmen pendek, sebab penugasan saya belum selesai ketika itu.

Penanda lain masa ini adalah saya sepenuhnya memakai Bahasa Inggris di dalam blog baru tersebut. Di sana, saya juga mulai menulis sisi nonteknis fotografi, walau belum beranjak dari kerangka berbagi pengalaman—masih bukan karena ingin menjadi penulis, meski juga tetap bukan lantaran iseng belaka. Saat itu, saya baru saja mengunjungi sebuah festival fotografi antarbangsa di Singapura dan setelah kembali ke Yogyakarta, saya diundang mengikuti suatu lokakarya dengan topik fotografi kolonial.

Pada periode ini, saya mencoba untuk semakin mendekatkan diri dengan wacana nonteknis fotografi, seperti sejarah dan perkembangannya, baik secara teknikal maupun sosiokultural; perjalanan hidup dan pengalaman para pelakunya, baik yang terkini maupun yang terdahulu; pemikiran yang memengaruhi dan dipengaruhi oleh praktik yang berlangsung; atau juga percakapan di luar fotografi yang turut menyebut dan disebut di dalam perbincangan fotografi.

Di dalam fotografi bercorak dokumenter dan jurnalisme, contohnya, ada dialog yang tidak pernah usai antara realitas dengan rekayasa. Kecenderungan fotografi sebagai dokumen (merekam) kerap pula dipandang berseberangan dengan kecenderungan fotografi sebagai seni (mencipta), padahal mungkin tidak mesti begitu (dapatkah fotografi seutuhnya mencipta dan sepenuhnya tidak merekam; atau haruskah seni selalu disamakan dengan mencipta?).

Dengan kacamata lain, rekaman dapat dilihat sebagai sesuatu yang indeksikal, sedangkan ciptaan sebagai sesuatu yang simbolis, padahal di dalam bahasa visual, yang indeksikal itu juga bisa dibaca sebagai sebuah simbol. Menarik pula disimak, umpamanya, bagaimana rekaman yang silam itu dipahami dengan cara pandang masa sekarang, atau bagaimana ciptaan, yang konon ungkapan perasaan itu, ditempeli dengan label ekonomi dan sosial. Bisa turut ditengok, kecenderungan-kecenderungan lain di dalam fotografi dan bidang-bidang lain yang beririsan dengannya.

***

Fotografi, awalnya dahulu, saya kenal sebagai menggunakan photos (cahaya) untuk membuat graphos (gambar atau tulisan). Diyakini, kata “fotografi” berasal dari gabungan dua kata bahasa Yunani tersebut. Sekarang, saya melihat fotografi menjadi hamparan luas tempat bergumulnya pemikiran (teori) dengan tindakan (praksis), termasuk antara pemikiran yang satu dengan yang lain, juga antara tindakan yang satu dengan yang lain.

Pergumulan ini berlangsung terus. Pun tindakan dan pemikiran itu berkembang. Sudah barang tentu, pergumulan dan perkembangan ini sukar saya ikuti satu per satu, apalagi secara mendalam. Menulis, kemudian, merupakan cara saya untuk sekadar mencatat. Bagi saya, yang berwawasan ala kadarnya ini, menuliskan catatan menjadi punya muatan lain, yaitu—meminjam kata-kata Ajidarma di dalam pengantarnya untuk Kisah Mata—“sebagai usaha untuk mengerti” berbagai teori dan praksis tersebut.

Menulis tentang fotografi, pada akhirnya, dapatlah pula dipandang sebagai sebuah upaya untuk membicarakan sisi nonteknisnya; sebuah tawaran untuk membumikan percakapan sejarah, teori, dan wacana, yang sering dianggap setinggi langit; atau sebuah ajakan untuk menambah keragaman sudut pandang, guna memunculkan obrolan yang berwawasan. Namun demikian, seperti halnya upaya, tawaran, dan ajakan yang lain, keberhasilannya acap kali tidaklah dapat ditentukan oleh pihak yang mengusahakan, tetapi bergantung pula pada pihak lain yang menanggapinya. Lontaran ini hanyalah sebuah awal.

Yogyakarta, Januari 2021