Merangkai foto, menjalin cerita

Oleh Budi N.D. Dharmawan

Foto oleh Budi N.D. Dharmawan

Menjelang akhir 2009, saya berkesempatan mengikuti sebuah lokakarya fotografi dokumenter di Siem Reap, sebuah kota kecil di Kamboja tempat kompleks Angkor Wat berada. Itu adalah kali pertama saya meninggalkan Indonesia, juga kali pertama saya mengikuti lokakarya fotografi antarbangsa. Sebelum itu, saya telah mengikuti sejumlah lokakarya dan seminar fotojurnalisme lokal dan nasional. Di antaranya, di Surakarta pada 2006 bersama Arbain Rambey, Oscar Motuloh, dan Tjandra Mohammad Amin; di Yogyakarta pada 2007 bersama Julian Sihombing dan Eddy Hasby; dan di Jakarta pada awal 2009 bersama Michael Yamashita.

Di Siem Reap, saya dibimbing oleh Philip Blenkinsop. Setiap peserta mesti mengerjakan sebuah kisah foto, dengan sesi konsultasi dan penyuntingan harian bersama mentor masing-masing. Ini tantangan baru bagi saya, meski tidak baru-baru amat. Lokakarya yang sebelumnya saya ikuti cenderung membicarakan foto tunggal dan tidak banyak mengulas foto jamak. Kendati belum pernah diajari secara langsung, sejak beberapa tahun sebelumnya saya sebetulnya telah mengenal cerita foto sederhana dari rubrik akhir pekan sejumlah surat kabar. Saya pun sudah mendengar anjuran membuat cerita foto sederhana sejak awal mempelajari fotojurnalisme.

Dengan “cerita foto sederhana”, saya merujuk pada peliputan suatu topik atau peristiwa dengan mengambil foto dari sudut-sudut yang beragam, yang memang umumnya sudah dilakukan oleh para pewarta foto di lapangan. Cerita foto sederhana dapat dibuat di dalam sekali kunjungan selama beberapa jam, sebab itu kisahnya cenderung ringan. Ada dua panduan populer untuk membuat cerita foto sederhana, yaitu pendekatan establishing shot, close up and detail, portrait, person at work, relationships, dan the moment (dari modul kursus World Press Photo), serta pendekatan entire, detail, frame, angle, dan time (EDFAT). Ada juga yang menambahkan foto utama dan foto penutup.

Kedua pendekatan itu sedikit berbeda, tetapi sesungguhnya banyak miripnya, termasuk sama-sama sering agak keliru dipahami sebagai rumus membuat kisah foto. Semula saya juga mengira begitu, hingga pelan-pelan saya sadari, bahwa kedua panduan itu penekanannya visual belaka dan kurang menyentuh soal struktur, bahkan tidak membahas soal cerita itu sendiri. Oleh karenanya, saya pikir panduan tersebut seyogianya tidak diterima begitu saja sebagai patokan, walaupun tentu tetap dapat digunakan untuk mengerjakan cerita foto sederhana. Sekurang-kurangnya, kedua pendekatan itu membantu kita di dalam mengambil foto dari sudut-sudut yang berbeda.

Demikianlah, saya sudah punya sedikit pengetahuan tentang cerita foto (sederhana). Yang masih mengganjal bagi saya adalah, setelah kita punya sejumlah foto yang diambil dari sudut-sudut yang beragam, bagaimanakah foto-foto itu kemudian dipilih dan diurutkan sehingga membentuk suatu narasi visual yang berpaut. Rasa dahaga itulah yang saya rasakan sedikit terpuaskan di Siem Reap. Mentor membolehkan kami hadir mengikuti sesi penyuntingan karya para peserta. Setiap ada kesempatan, saya akan berdiri di belakang mentor dan memperhatikan bagaimana dia menyaring dan merangkai—juga menggonta-ganti susunan—foto-foto yang dikumpulkan peserta.

Saya menyimak bagaimana suatu foto bertaut dengan yang lain dan bagaimana penambahan atau pengurangan suatu foto dapat menguatkan atau justru mengganggu keselarasan yang sebelumnya sudah mulai terbentuk. Peserta yang karyanya sedang disunting biasanya gugup, sementara mentor berupaya menjalin dialog untuk coba menggali kisah yang ingin disampaikan oleh peserta melalui foto-fotonya. Mentor akan mengkritik dan memberi saran. Ada yang perlu diulangi, ada yang masih perlu dilengkapi. Ada kalanya, cerita tersembunyi di depan mata, lantaran si juru foto belum menyadari potensi itu. Itulah tugas mentor. Itulah perlunya penyunting.

***

Di Indonesia, perkembangan kisah foto cukup lambat. Erik Prasetya pernah menulis tentang memahami “esai foto”—sebutan populernya waktu itu. Artikel tersebut terbit di dalam majalah Fotomedia pada 1994 dan direproduksi di dalam buku foto Rama Surya, Yang Kuat Yang Kalah, pada 1996. Dituliskan, esai foto hadir di Indonesia baru pada 1980-an. Pada 1990-an, beberapa majalah seperti Mutiara, Tempo, Editor, dan Fotomedia memuat esai foto sebagai rubrik tetap. Sayangnya, rintisan ini tidak disertai upaya peningkatan pemahaman pembaca, yang bingung melihat beragamnya gaya dan cara penyajian esai foto oleh terbitan-terbitan berbeda itu.

Kebingungan dan upaya memahamkan tersebut masih tercermin di dalam catatan Ahmad Salman pada Maret 2010, yang menanggapi artikel Arbain Rambey di Kompas beberapa hari sebelumnya, soal seri foto dan esai foto. Di sisi lain, kisah foto nyaris selalu dibicarakan di dalam kerangka dokumenter klasik—artinya yang memakai pendekatan objektif dan nonfiksi. Saya rasa, ini ada hubungannya dengan kuatnya kecenderungan fotojurnalisme di dalam praktik fotografi di Indonesia. Padahal, cerita foto juga dapat dibuat dengan pendekatan subjektif atau personal, ataupun memakai penuturan fiksional. Kisah foto yang demikian masih belum banyak diteroka.

Saat saya mempelajarinya pada dasawarsa 2000-an, kisah foto masih bukan merupakan barang populer. Di dalam sejumlah pameran, bahkan pameran tunggal, pun saya lebih sering—hampir selalu—menjumpai foto-foto tunggal. Maka tidaklah mengherankan, jika yang kala itu kerap dijadikan rujukan adalah cerita foto sederhana gaya koran, yang umumnya terbit di halaman belakang setiap akhir pekan. Di dalam setiap terbitan, biasanya ada sekitar empat sampai tujuh foto bersanding dengan sebuah teks pendek yang menarasikan foto-foto tersebut. Dengan bentuk yang ringkas, cerita yang disampaikan pun relatif ringan dan sederhana.

Baru saya sadari kemudian, betapa pun beragam, rubrik tersebut hanyalah merupakan salah satu bentuk seri foto. Foto jamak berangkai ada yang sederhana dan yang lebih rumit, yang ringkas atau yang berlapis, yang dikerjakan di dalam jangka waktu singkat sampai yang perlu bertahun-tahun, yang deskriptif juga yang naratif. Di luar halaman koran dan majalah, atau ruang pamer, pun ada berbagai rupa penyajian lain untuk karya cerita foto, termasuk buku foto—waktu itu belum menjadi barang populer seperti sekarang. Suatu sajian foto berangkai lain yang sempat populer sekitar belasan tahun lalu adalah bentuk multimedia, misalnya podcast video.

Baru saya pahami pula kemudian, bahwa setiap wahana tentu punya kekhasannya sendiri, sehingga sedikit atau banyak, perlu ada penyesuaian untuk dapat dengan optimal menyajikan macam-macam bentuk kisah foto, yang juga punya karakteristiknya sendiri. Ada pengalaman ruang di dalam pameran, yang tidak dapat kita rasakan sewaktu menyimak majalah. Sajian foto sebagai multimedia dapat ditambahi video dan audio, tetapi tidak dapat dibolak-balik pembaca seperti lembar-lembar halaman buku. Meski sama-sama memakai kertas, ruang penyajian di dalam suatu majalah terbatas dan tidak leluasa, kalau dibandingkan dengan sebuah buku.

Seperti saya tulis di atas, di sinilah diperlukan editor untuk suatu terbitan, atau juga kurator untuk suatu pameran. Mereka dapat membantu memperjelas dan mempertegas suara juru foto, lewat penyuntingan yang baik guna ditampilkan di dalam medium yang relevan. Dengan pengetahuan dan pengalaman sosial dan kulturalnya, mereka juga dapat menempatkan karya di dalam konteks yang tepat, sehingga pemirsa dapat membaca dan memahami keterkaitannya dengan dunia yang lebih luas. Biarpun begitu, bukan berarti seluruh proses ini bergantung pada editor atau kurator saja. Di dalam dialog ini, juru foto juga perlu menawarkan sikap dan pandangannya.

***

Seorang juru foto yang serius, tulis Jörg Colberg di dalam Understanding Photobooks, perlu belajar untuk menyunting karyanya sendiri, kendatipun ada orang lain (penyunting) yang terlibat di dalam proses itu. Secara konseptual, lanjutnya, menyunting merupakan perpanjangan dari memfoto, yakni memilih dan memutuskan gambar mana yang akan diambil. Namun demikian, menyunting karya sendiri sering dapat diibaratkan seperti mencari-cari keburukan anak sendiri—kita mungkin dapat menemukannya, tetapi tidak dapat berhenti menyayanginya. Itu sebabnya, salah satu petuah paling penting di dalam menyunting terdengar amat keji: “Kill your darling.”

Menurut pengamatan dan pengamalan saya, intuisi dan pengalaman memainkan peran penting di dalam menyunting dan mengurutkan. Di dalam suatu kuliah umum daring yang saya ikuti pada akhir April lalu, Alec Soth ditanya soal pendekatannya di dalam menyusun sebuah karya. Dia tidak menjawab secara gamblang, namun menjelaskan, bahwa ketika dia berusaha melakukannya secara hati-hati dengan sejumlah pertimbangan, hasilnya malah terasa kaku karena dia terbebani banyak pikiran. Walau demikian, tulis Colberg di dalam bukunya, ini bukan berarti bahwa tidak ada rambu-rambu umum yang dapat diikuti, atau bahwa proses ini tidak punya metode.

Mata yang berjarak dari foto atau karya yang disunting dapat melihat dan menilai secara lebih kritis dan dingin. Juru foto punya keterlibatan emosional dengan subjek dan proses pembuatan foto, sehingga kerap merasa sayang untuk membuang sebagian foto dari keseluruhan karya. Di dalam pengertian ini, sebelum menyunting, juru foto perlu coba mengambil jarak dari karyanya. Proses menyunting dimulai dengan memilih foto-foto, terutama berdasarkan wujud dan isinya. Pada tataran awal ini, jika cerita yang ingin disampaikan tidak termuat atau terwakili di dalam suatu foto, juru foto atau penyunting mesti menyisihkannya dari keseluruhan karya.

Selanjutnya, foto-foto yang mirip perlu diperiksa lebih seksama dan diambil satu yang terbaik. Termasuk yang perlu diperiksa adalah kecelakaan teknis, seperti gambar kurang tajam atau komposisi kurang seimbang. Di dalam penyuntingan awal ini, cerita yang mau disampaikan tentu menjadi pertimbangan, tetapi belum perlu dijadikan patokan, agar penyaringan dapat berlangsung luwes dan tidak segera terjebak pada bentuk. Pada tahap selanjutnya, penyunting atau juru foto dapat mulai memperhatikan susunan, urutan, nada, irama, rasa, atau juga hal-hal lainnya guna membentuk alur cerita, atau justru untuk membiarkan cerita itu sendiri menemukan bentuknya.

Sewaktu berkesempatan menjadi mentor beberapa lokakarya kisah foto, saya coba mendorong juru foto untuk menemukan suaranya. Nyaris tidak ada hal baru di dunia ini, namun cara pandang seseorang terhadap sesuatu tentu tidak sama dengan orang lain. Keunikan itulah yang dapat membuat suatu cerita menjadi menarik bagi pemirsa atau pembaca. Pengalaman saya saat berperan sebagai juru foto maupun sebagai penyunting menunjukkan, bahwa pendekatan kerja jurnalisme untuk mengupas persoalan secara kritis dan mengumpulkan data amat membantu di dalam pengerjaan dan penyusunan karya, baik di dalam atau juga di luar kerangka dokumenter.

Di dalam sejumlah kesempatan, saya sering memberi penekanan pada cerita dan penceritaan. Apa pun bentuk, gaya, dan pendekatan yang dipakai di dalam membuat dan merangkai foto, apa pun wahana penyajian yang dipilih, semua berawal dari dan berakhir pada cerita itu sendiri. Apa yang mau disampaikan dan bagaimana menyampaikannya. Dengan mentor, editor, atau juga kurator sebagai rekan dialog, pada akhirnya, semua akan (di-) kembali (-kan) kepada juru foto. Jika si juru foto sendiri kurang memahami cerita yang akan dia tuangkan ke dalam karyanya, maka bagaimana cerita itu kemudian akan dipahami oleh pemirsanya?

 

Yogyakarta, Mei 2021