Resep yang Mempertahankan Kehidupan

Gambar Sukaduka
Ilustrasi oleh Gambar Sukaduka

Sejak saya membeli kulkas pada akhir tahun lalu, belum pernah saya melihatnya penuh terisi makanan. Kalimat tersebut tidak ditulis tanpa rasa malu, tapi memang begitulah adanya. Sebagai orang yang berusaha menghidupi diri dengan membuat terbitan mandiri, saya tak tahu pasti kapan perbuatan saya berbuah pendapatan. Setiap kali ada pendapatan, saya memprioritaskannya untuk kebutuhan yang paling primer: membayar tagihan tempat tinggal dan belanja bahan makanan, yang diusahakan supaya bisa tahan sampai kedatangan pendapatan selanjutnya.

Barangkali kita bisa bersepakat: tiada publikasi jika perut tidak terisi. Namun, ketika belum ada kepastian tentang makanan, apakah itu berarti seorang pelaku penerbitan mandiri mesti berhenti mengusahakan terbitannya? Barangkali, ia bisa mencari kemungkinan yang lain. Namun, kemungkinan seperti apa? Dengan logistik terbatas, apa yang mungkin dalam penerbitan? Dengan pendapatan yang terbatas, apa makanan yang bisa muncul di dapur?

*

Baru-baru ini, saya menjumpai sebuah buku yang mengingatkan bahwa memasak masakan banyak miripnya dengan memasak terbitan. Buku itu berjudul Memasak Harapan (POST Editions, 2026), berisi pengalaman muda-mudi yang memasak resep masakan dari majalah Api Kartini, puluhan tahun setelah majalah itu pertama kali terbit. Dalam kata pengantar Dari Sudut Dapur Memasak Harapan, penyusun buku yang menyebut dirinya sebagai Pemandu Dapur, menulis:

“(…) Kami belajar dari majalah Api Kartini yang dikelola Gerwani dan terbit pada periode 1959 sampai awal 1960-an. Buku resep ini–yang berisi kerja pengorganisasian; pemikiran feminis transnasional dan dekolonial; cara merawat diri, orang lain, dan bangsa; karya perempuan di berbagai bidang; cara melihat keseharian secara politis khas perempuan di dapur; dan berbagai pengetahuan lain–mengajari dan menuntun kami dalam proses memasak, berpikir, dan menulis.”

Lewat tujuh ‘hidangan’ dalam Memasak Harapan, setiap penulis memilih resep masakan untuk dimasak menurut pertimbangannya masing-masing; mulai dari selera, ketersediaan bahan, waktu, tingkat kesulitan, sampai kepada siapa mereka akan berbagi masakannya. Resep masakan menjadi pintu penghubung dengan rasa yang pernah diramu oleh generasi terdahulu. Dari pilihan bahan-bahan yang tercantum di resep, para penulis membayangkan seperti apa situasi yang dihadapi oleh perempuan pada masa itu. Bercerita tentang pengalaman memasak eskrim moka, eskrim susu kelapa, dan puding buah-buahan, salah satu penulis, Asri Pratiwi Wulandari mengomentari bahan-bahan yang diresepkan oleh Ny. Sulistyowarni:

“(…) Tiga resep ini cocok dibuat bersama-sama biar pemakaian bahan efisien; telur bisa dipakai untuk dua resep: kuningnya buat es krim moka, putihnya buat puding buah. Sebetulnya puding buah tidak butuh putih telur supaya jadi, tapi bisa tidak buang-buang bahan, pudingnya juga jadi lebih bernutrisi protein. Pada 1960-an, kurasa kulkas atau yang disebut “bus es” masih merupakan barang mewah.”

Di sela-sela memasak, muncul juga cerita pengalaman masing-masing penulis ketika membaca Api Kartini. Ada yang mengingat nasihat ibunya untuk jauh-jauh dari dapur; lebih baik belajar, karena ketika ia pintar, akan ada orang yang memasak untuknya; ada yang menceritakan kawan-kawan yang kerap berbagi kasih dalam bentuk makanan; salah seorang penulis memasak sambil menelusuri sejarah gerakan perempuan, sementara penulis yang lain mengingat pergerakan sesamanya saat demonstrasi akhir Agustus-awal September 2025; dan ada juga penulis yang menegaskan bahwa makanan terkait erat dengan perawatan dan kesehatan.

Menyimak cerita-cerita tersebut, kesan yang paling terasa adalah bagaimana resep makanan merupakan arsip sosial. Ia dapat mengantarkan pembaca ke ingatan-ingatan kolektif tentang keluarga, cinta, pergerakan, kekerasan, dan bagaimana upaya menyembuhkan luka-luka yang pernah dialami. Bagaimana cerita itu kemudian dicatat, diterbitkan, dan disebarkan kepada pembaca, merupakan bentuk perawatan ingatan dan pengetahuan kolektif. Ingatan dan pengetahuan adalah sesuatu yang rentan, yang mudah terlupakan ketika ia tidak dihidupi dan diteruskan ke siapa pun yang membutuhkannya. Jika praktik memasak terkait erat dengan perawatan dan kesehatan tubuh, praktik penerbitan terkait erat dengan perawatan dan kesehatan jiwa.

Ibarat ‘Tahu Berontak’–resep tahu yang isiannya padat karena menggunakan daging, ayam atau udang, serta tepung maizena–isian majalah Api Kartini juga sepadat itu. Dalam edisi nomor 11 tahun 1961, misalnya, Api Kartini memuat reportase dari Vietnam Selatan; resensi bacaan remaja; resensi film; nasihat untuk anak-anak tentang pentingnya membagi waktu; laporan tentang ibu rumah tangga yang mengantri pembagian minyak tanah; ide sulaman baju anak-anak, resep lauk yang tidak menggunakan daging, dan masih banyak lagi. Saat membaca majalah Api Kartini, saya membayangkan bagaimana terbitan itu ditujukan kepada pembaca perempuan yang berpikir dan berperan aktif dalam membentuk situasi di luar sekaligus di dalam rumahnya.

Api Kartini memaknai pengalaman menjadi perempuan, misalnya dalam kolom IBU RUMAH TANGGA: Bagaimana Memetjahkan Kesulitannja, masih dalam edisi yang sama, tertulis:

“(…) Wanita rumahtangga adalah wanita jang setiap harinja harus menjelesaikan tidak kurang dari 10 matjam pekerdjaan, mulai dari mendjadi kasir, berbelandja, memasak, mentjutji, memotong, menjulam, mendjahit, membersihkan dan mengatur rumah, memelihara dan mengasuh anak2, mendjaga kesehatan keluarga, melayani suami dan pekerjaan tetek bengek lain, jang tidak ada hentinja, jang memakan banjak waktu, fikiran, energi.”

Ketika Api Kartini diterbitkan, Indonesia belum genap dua puluh tahun merdeka. Di tengah-tengah revolusi; pergolakan politik di dalam dan luar negeri; perundingan yang merugikan bangsa Indonesia; kehidupan yang masih ‘setengah kolonial, setengah feodal’; sampai beban ekonomi yang dihadapi rakyat; ada gerakan wanita yang secara progresif memperjuangkan Indonesia yang mereka cita-citakan. 

Menurut sejumlah sumber, Gerwani bermula dari Gerwis, Gerakan Wanita Istri Sedar, yang didirikan pada Juni 1950. Gerwis, yang merupakan fusi dari beberapa organisasi perempuan, mencurahkan perhatiannya pada masalah pemberantasan buta huruf dan pendirian sekolah. Pada Kongres Gerwis yang ke-2, Maret 1954, muncul keputusan mengubah nama menjadi Gerakan Wanita Indonesia, atau Gerwani. Gerwani mengampanyekan keadilan sosial; menuntut perbaikan nasib petani, memprotes kenaikan harga bahan pokok; menentang kekerasan seksual dan domestik, poligami, serta perkawinan anak. Isi Api Kartini mencerminkan kampanye itu. Mulai dari memasak masakan bergizi, bagaimana mendidik anak, sampai mengusahakan kesejahteraan keluarga. Semua bertolak dari kenyataan yang dihadapi rumah tangga kebanyakan. Semua disajikan dengan perwajahan yang sedap dipandang, serta gaya tutur penuh hormat dan perhatian. Kekayaan isi tersebut membuat Api Kartini tidak hanya relevan bagi para ibu, tapi juga seluruh anggota keluarga.

Sebagaimana Api Kartini, Memasak Harapan juga terbit dengan perwajahan yang menggugah selera. Di samping teks cerita, ada perpaduan antara arsip visual Api Kartini, arsip foto pergerakan Indonesia, serta dokumentasi pribadi para penulisnya, yang ditata dengan dinamis. Kesannya hangat, cocok untuk dinikmati di tengah situasi yang menyurutkan harapan. 

*

Saya tinggal di sebuah apartemen di tengah Jakarta, yang juga saya gunakan sebagai studio tempat saya memasak penerbitan mandiri. Setiap kali persediaan makanan habis, saya punya beberapa pilihan tempat belanja di sekitar apartemen. Di rubanah ada mini market yang paling praktis, tapi harganya relatif mahal. Tidak jauh dari sana, ada juga supermarket bergaya Jepang yang pilihan barangnya lebih istimewa, sekaligus lebih mahal. Tempat belanja kesukaan saya justru sebuah pasar tradisional yang bisa ditempuh sekitar tiga puluh menit berjalan kaki dari rumah. Saya senang belanja di sana, pertama: harga bahan makanannya paling terjangkau buat saya; kedua: banyak hal yang bisa saya amati dalam perjalanan berbelanja.

Pasar tempat saya biasa berbelanja terletak di belakang sebuah pemakaman umum, persis di sebelah kompleks rumah susun sederhana. Untuk ke sana, saya menyusuri sebuah jalan yang melewati kampung kota. Di sana, rasanya kaki saya benar-benar memijak. Tempat usaha yang ada di sekitar apartemen mirip dengan yang ada di rumah susun: warung makan, laundry, sampai toko kelontong. Pasar yang saya kunjungi menyediakan hal yang tidak jauh berbeda dengan mini market yang paling dekat dengan tempat tinggal saya, perbedaannya pada harga dan kemasan yang ditawarkan. Saya biasa menyetok bahan-bahan sederhana seperti beras, sayur, telur, tahu, tape, minyak goreng, dan bumbu dapur. Kalau ada uang lebih, saya membeli daging ayam, jamur, atau minyak wijen. Kalau masih ada sisa, barulah saya jajan risoles, jamu, atau kue olahan singkong. Dengan keterbatasan uang, saya perlu memikirkan bagaimana belanja makanan dan memasaknya supaya tidak cuma memenuhi kebutuhan tubuh, tetapi juga memuaskan selera. 

Saya percaya selera bukan sesuatu yang terberi, melainkan terbentuk sepanjang pengalaman hidup. Selera saya bisa jadi terbentuk sedari kecil, dari apa yang dulu kerap dimasak di rumah saya, dan yang terbeli oleh orangtua saya. Awalnya saya menganggap makanan enak semata karena rasanya cocok di lidah. Ketika mulai bisa jajan sendiri, saya mencoba makanan yang diiklankan menarik atau dianggap enak oleh orang lain. Dari situlah selera saya berkembang. Ketika sudah tidak tinggal lagi bersama orang tua, saya mulai memasak sendiri dan berdasarkan ingatan tentang makanan-makanan yang saya suka, mulai berusaha meramu sendiri rasa-rasa itu.

Mulanya, makanan saya anggap enak hanya karena rasanya. Lama-lama saya bertanya-tanya: bagaimana makanan bisa sampai ke piring saya? Saya pun membaca sejarah dan mendapati bahwa makanan tidak bersifat netral. Makanan berhubungan dengan kolonialisme, genosida, tanam paksa, monopoli perdagangan, sampai bagaimana ia digunakan untuk mengatur tubuh dan selera masyarakat. Bahan-bahan seperti lada, gula, beras ternyata juga menyimpan kegetirannya. Kata ‘enak’ berkembang maknanya; tidak lagi sebatas apa yang tercecap di lidah, tetapi juga tentang bagaimana makanan ditanam dan diperjualbelikan. Lebih jauh lagi, saya juga memikirkan apa dampak makanan kepada tubuh saya. Apakah makanan itu menyehatkan? Apa nutrisi yang dibutuhkan tubuh supaya saya tetap sehat dan bekerja dengan baik?

Pegiat penerbitan mandiri mengolah terbitan dengan sumber daya dan pengalaman hidup yang membentuk seleranya. Saya mulai dari ide, kemudian menentukan medium untuk menyampaikan ide itu. Apakah dengan fotografi, gambar, atau tulisan? Bagaimana tata letak terbitan itu? Setelah sebuah terbitan matang, ada berbagai cara untuk memperbanyak dan mendistribusikannya. Meskipun begitu, seperti halnya tidak semua orang memiliki dapur yang sama lengkapnya, tidak semua pegiat penerbitan mandiri memiliki akses yang sama terhadap mesin cetak, jenis kertas, tinta, dan keleluasaan waktu untuk mengerjakan terbitannya. Karena itu, setiap terbitan akan menyiratkan keadaan dapur tempatnya dimasak.

Terbitan mandiri membuka keleluasaan bagi pegiatnya untuk menentukan resep terbaiknya, bertolak dari pengetahuan dan sumber daya yang ia miliki. Namun perlu disadari, setiap pilihan dalam mengolah dan mendistribusikan terbitan mandiri secara tidak langsung akan menentukan siapa saja yang bisa mengakses terbitan itu. Pilihan teknologi percetakan berpengaruh kepada biaya produksi. Pilihan bahasa yang digunakan berpengaruh kepada siapa yang dengan mudah memahami bacaan tersebut. Disadari atau tidak, pilihan-pilihan itu menunjukkan posisi pegiat terbitan mandiri.

Sekarang bermunculan pasar-pasar di mana pegiat penerbitan mandiri bisa membuka lapak dan menjual terbitannya. Dalam sebuah pasar, kita menjumpai keberagaman yang mempengaruhi bagaimana sebuah terbitan bisa sampai ke tangan pembaca: mulai dari kualitas produksi, kekayaan gagasan, kematangan eksekusi, sampai strategis atau tidaknya lokasi lapak. Seringkali, kemandirian belum berarti kesetaraan.

Sebuah terbitan bisa saja dikerjakan sepenuh hati oleh pegiatnya, tapi tidak ada kepastian bahwa terbitan itu akan berjodoh dengan pembacanya.

*

Dalam dunia yang ideal, barangkali resep yang diikuti dengan telaten akan selalu berujung pada santapan lezat; apa yang dipikirkan masak-masak akan berbuah pemikiran matang; buah yang matang akan memberi kebahagiaan kepada orang-orang. Namun untuk sepenuhnya hidup, saya mesti mengakui betapa dunia begitu jauh dari ideal. 

BBC Indonesia melaporkan, pada 1965, Gerwani termasuk gerakan perempuan terbesar di dunia dengan jumlah anggota 1,5 juta. Pada 1964, pemerintah Indonesia menginstruksikan organisasi massa agar mengikatkan diri pada partai politik. Gerwani — yang berideologi feminis dan sosialis — menyatakan diri berada dalam kubu komunis, yang akan diresmikan dalam kongres yang digelar Desember 1965. Namun, kongres itu urung digelar, Peristiwa 65 meletus dan sejak saat itu Gerwani “dihancurkan”.  Dengan dalih ‘menjaga kestabilan negara’, organisasi progresif itu difitnah seksual. Dalam Jurnal Perempuan, Akhiriyati Sundari menulis:

Dikabarkan bahwa mereka mencungkil mata, menyilet-nyilet penis para jenderal hingga berdarah-darah, memegang dan menggosok-gosokkan penis itu ke vagina mereka sendiri, lalu merangkumnya dalam pesta seks berlatar tarian “Harum Bunga”. Bugil, liar dan nakal. Diiringi lagu Genjer-Genjer, lagu daerah Banyuwangi yang telah direproduksi maknanya sedemikian rupa sebagai magis-mistis dan subversif. Demikian cuplikan film Pengkhianatan G30S/PKI yang populer di tahun 1980-an hingga sebelum 1998 lantaran sebagai film wajib tonton saban tahun di TVRI […].”

Menurut Saskia E. Wieringa, penulis buku Penghancuran Gerakan Perempuan (Galang Press, 2010), para pengurus dan anggota Gerwani dipenjara tanpa proses peradilan. Banyak juga perempuan yang bukan menjadi anggota Gerwani, tapi “di-Gerwani-kan”. Mereka disiksa untuk mengakui kejahatan yang tidak mereka lakukan. Sejak penghancuran Gerwani, gerakan perempuan di Indonesia mengalami kemunduran. Perempuan didorong kembali ke ranah domestik, tidak lagi berperan aktif mendorong kebijakan-kebijakan yang berpengaruh pada hajat hidup orang banyak. 

Penghancuran tersebut tidak hanya bersifat fisik, tapi juga menyangkut kepada ranah pemikiran. Tahanan politik dan keluarganya dikucilkan dari masyarakat. Mereka dilarang untuk berpikir dan berbagi pikirannya. Pemikiran Gerwani, sebagaimana yang terkandung dalam arsip Api Kartini dianggap sebagai bacaan terlarang, yang sulit diakses publik. Akibat propaganda pemerintah, melalui koran-koran tentara, film, buku pelajaran, dan museum, ada kengerian yang dirasakan generasi berikutnya ketika mendengar tentang Gerwani. 

Melalui usaha-usaha itu, penguasa Orde Baru secara sistematis membuat rakyat melupakan sejarahnya sendiri. Peneliti kajian Indonesia, Benedict Anderson, menyampaikan analisisnya:

“Yang pertama dan utama adalah diterapkannya sistem ejaan baru untuk bahasa nasional, yang diresmikan pada 1972-1973 […] menandai pemutusan yang tegas antara segala sesuatu yang ditulis di bawah kediktatoran serta yang ditulis sebelumnya. Seseorang hanya perlu membaca judul buku atau pamflet untuk mengenali apakah bacaan itu sangat modern, atau cuma sisa usang Sukarnoisme, konstitusionalisme, revolusi, maupun kolonialisme. Jika ada yang berminat menyimak bacaan berejaan lama, ia patut dicurigai. Perubahan itu sungguh besar sampai-sampai generasi muda dengan mudah diyakinkan bahwa bahan-bahan terbitan “lama” terlalu sulit dibaca dan dimengerti, sehingga tidak perlu repot-repot mempelajarinya.”

Membaca sejarah penghancuran Gerwani, saya merasa trenyuh. Banyak keberhasilan yang mereka raih dan dirasakan oleh generasi berikutnya. Namun, belum selesai perjuangan, organisasi ini malah difitnah dan dihancurkan penguasa.

Bagian mana yang salah?

*

Sejarah Gerwani mengingatkan saya pada kondisi Indonesia hari ini: dari kekerasan penguasa, himpitan ekonomi, pers yang semakin ditekan, pelemahan hukum, pemutihan sejarah, dan masih banyak lagi. Kondisi nasional, tentu saja berpengaruh pada kondisi personal seorang warga negara; membuat saya kerap merasa lelah dan tidak berdaya.

Untuk memahami bagaimana seseorang bisa menyintas dari kekerasan penguasa, saya membaca memoar Mia Bustam, salah satu tahanan politik pasca peristiwa tahun 1965. Sebagai pegiat Lekra dan pengurus Seniman Indonesia Muda, bisa dibilang Mia adalah tahanan politik yang di-Gerwani-kan. Dalam memoarnya, Dari Kamp ke Kamp (Ultimus 2022), Mia Bustam bercerita hal-hal yang dilakukan para tahanan politik wanita untuk merawat hidupnya. Mulai dari membuat taman bunga, memasak apa yang masih bisa diolah lagi, berlatih bela diri, memenuhi kebutuhan protein dengan menangkap tikus, dan masih banyak lagi. Cerita-cerita ini ditulis dengan nada ringan, tanpa mengasihani diri, misalnya seperti ini:

“Pada tahun 1968-an, kami di kamar 3 memutuskan untuk lebih meningkatkan kehidupan kolektif dengan menyatukan semua kiriman makanan, kemudian dibagi rata. (…) setelah kami “tim konsumsi” selesai membagi makanan dan mengaturnya di atas ompreng masing-masing, ompreng-ompreng itu tampak seperti seporsi nasi rames aneka warna, dengan secuil empal, seiris kecil dadar atau ceplok, sepotong tahu atau tempe bacem, dan sesendok sayuran seperti urap, pecel, oseng-oseng buncis, gudeg, dan sambel goreng krecek. Seorang kawan dari kamar 4 melihat jajaran ompreng berisi makanan meriah, tetapi sedikit-sedikit itu, menyeletuk dengan nada mengejek, “Kok seperti sajen untuk demit.” Namun, kami hanya tersenyum, karena dengan demikian tiap acara makan pada hari-hari kiriman yang selalu diadakan bersama, merupakan suatu pesta kecil yang menyenangkan.”

Membaca cerita itu memunculkan perasaan haru. Rantai perawatan dan pengetahuan yang berupaya diputus oleh penguasa dengan sedemikian rupa ternyata bisa tersambung lagi, lewat penerbitan memoar oleh orang-orang yang ditahan tanpa peradilan. Hal yang juga menghibur adalah semakin banyak peneliti dan media yang memberi perspektif lain untuk memahami Gerwani dan sejarah Indonesia. Beberapa pihak berinisiatif merilis arsip Api Kartini secara daring, termasuk oleh LogosID yang juga membuka website Ensiklopedia Gerwani. Menerbitkan dan membaca apa yang telah diterbitkan merupakan upaya untuk mengakses rantai perawatan dan pengetahuan dari generasi sebelum kita, dan meneruskan ke generasi setelah kita.

Humor juga senantiasa menjadi obat untuk menghadapi situasi yang sulit. Salah satu kisah yang paling lucu dari buku Memasak Harapan ditulis Teddy W. Kusuma & Maesy Ang, yang berusaha memasak resep Minuman Ketan Hitam, tetapi gagal berkali-kali karena ketannya berjamur.

“Saat membuka toples dan menjumpai jamur-jamur itu, terbit rasa malu kami–beneran deh, masa cuma bikin fermentasi saja gagal? Tapi kami lantas memulainya lagi dari awal, menakar dan mengukur lagi, mengukus lagi, mensterilkan toples lagi dan dalam proses ini kami merasa sedang belajar tentang waktu, tentang sabar, tentang sejarah yang tidak pernah lurus.

Kami teringat buku If We Burn karya Vincent Bevins. Ia menelusuri sejarah protes massal di sepuluh tahun terakhir–dari Brasil, Mesir, hingga Hong Kong. Semuanya penuh gairah, penuh massa, penuh api. Tapi semuanya berujung kegagalan. Revolusi tak jadi tiba. Yang lahir kerap rezim baru yang sama rapuhnya. Kegagalan fermentasi, kegagalan revolusi: keduanya terasa akrab di dapur ini. Tapi apa artinya? Mungkin sama seperti ragi yang bandel, politik juga butuh terus dihidupkan. Seperti fermentasi yang harus dicoba lagi, gerakan juga harus terus diulang, diperbaiki, dijaga agar tidak mati.”

*

Kerapkali saya bertanya-tanya, sampai kapan saya bisa hidup di tengah berbagai ketidakpastian tentang negara. Kapan datangnya keadilan sosial, bagaimana cara mengusahakannya? Kapan setiap warga negara berdaulat untuk mengekspresikan diri dan aspirasinya? Kapan saya tidak disibukkan memenuhi kebutuhan sehari-hari, tapi juga punya keleluasaan merencanakan masa depan? 

Saya tidak serta-merta bisa menjawabnya. Kadang, saya merasa perlu berhenti sejenak untuk membaca tulisan yang lain. Kadang, saya perlu berjalan kaki keluar rumah. Terlalu banyak pertanyaan membuat perut saya lapar. Jika sudah begitu, berikut resep makanan andalan saya:

Bahan-bahan:

  • Pakchoy
  • Wortel
  • Telur ayam
  • Tahu

Bumbu:

  • Bawang Putih yang sudah difermentasi dengan cuka dan gula
  • Kaldu Jamur
  • Lada
  • Gula
  • Minyak Wijen
  • Saus Tiram

Cara memasaknya: Tumis bawang putih, lalu tambahkan bumbu, aduk rata. Tambahkan air, masak sampai mendidih, masukkan pakchoy dan wortel yang sudah dicuci dan direndam di air garam. Di atas semua rebusan sayur, tambahkan sebutir telur ayam. Tutup pancinya. Nyalakan api sampai telurnya setengah matang.

Setelah siap, saya memakan resep buatan sendiri itu dengan nasi. Rasanya cocok di lidah saya. Biasanya, ketika perut saya kenyang, muncul lagi kesadaran bahwa tidak semua pertanyaan ada jawabannya.

Mungkin begitulah kehidupan dipertahankan, sedikit demi sedikit, dengan sesuatu yang masih bisa dimasak dan dibagikan.

Gambar Sukaduka adalah seorang zinester yang merekam kisah sehari-hari yang ia harap bisa menerbitkan tawa dan air mata. Selama membuat zine, momen yang paling membuatnya bersemangat adalah ketika bisa melapak. Sementara itu, yang paling membuatnya kewalahan adalah hari-hari jelang tenggat waktu pengumpulan karya. Ia senang berkenalan dan bertukar pikiran dengan pembaca, dan bisa disapa via IG @gambar.sukaduka

Memuat data buku...

Daftar Buku Saya (0)

Memuat wishlist...