Tentang menulis tentang kritik tentang fotografi

Foto oleh Budi N.D. Dharmawan

Belum lama ini, saya melunasi undangan menghadiri sebuah festival foto di Jakarta untuk turut membicarakan soal praktik menulis kritik fotografi di Indonesia, sebagai salah seorang pembahas di dalam suatu forum diskusi. Tulisan ini saya kembangkan dari beberapa pokok pikiran yang saya catat—bukan sebagai hasil, melainkan bahan—untuk dikupas di dalam forum, yang saya jalin dengan cerminan pribadi soal kegiatan saya belakangan ini menulis tentang fotografi.

Ketika ditanya tentang kritik fotografi di Indonesia, saya bingung juga mesti mulai membahasnya dari mana—ada sejumlah faktor yang perlu diurai dan diperhatikan. Saya kira, kritik fotografi memang bukannya tidak berlangsung sama sekali di Indonesia, hanya saja masih belum optimal di dalam membina percakapan yang produktif dan sehat. Praktik yang berlaku acap kali berkisar pada kritik teknis atau hanya mencari-cari kekurangan, bukan berupa tinjauan kritis yang utuh.

Awal bulan ini, seorang juru foto dan penulis mengungkapkan di dalam suatu obrolan, betapa tulisan kritik seni (termasuk fotografi) sering bikin pusing tidak karuan atau berisi sanjungan berlebihan, membuat orang malas membacanya. Kritik, manakala dilihat sebagai produksi pengetahuan, sesungguhnya usaha untuk membangun pemahaman dengan kritis—dan ini sukar dicapai lewat cara-cara tersebut. Salah kaprah ini membuat kritik fotografi menjadi kurang subur.

Sesudah menulis pun ada tantangan lain yang telah menanti, yaitu memublikasikannya. Ruang untuk menayangkan kritik fotografi (juga seni secara umum), beserta faedah ekonominya bagi penulis, makin terbatas dan terus menyempit. Majalah dan koran yang ditinggal pelanggannya, untuk memangkas biaya, sering meniadakan halaman seni dan budaya, serta merumahkan juru foto. Mereka kalah penting dibandingkan teks berita cepat—apalagi iklan (baca: pemasukan).

Media berbasis internet dapat menjadi wahana baru publikasi kritik, namun ada risikonya. Media daring cenderung mengejar jumlah ketukan tinggi, padahal kritik bukan jenis tulisan yang lazim mengundang lalu lintas ramai. Ekonomi internet lebih banyak diputar oleh promosi dan pujian daripada kritik yang tajam dan mengena. Di lingkungan demikian, kritik mesti berkompromi, antara menjadi lebih ramah kepada pengiklan atau menjadi tidak mendatangkan imbalan sepadan.

Menulis tentang fotografi, di dalam sejarahnya, merupakan karcis sekali jalan menuju kemiskinan, ujar seorang juru foto dan penulis lain di media sosial medio bulan ini. Katanya lagi, pengkritik berisiko dikucilkan. Orang jadi sungkan mengkritik, karena orang pun biasanya enggan dikritik. Kritik sering dilihat sebagai serangan pribadi, sehingga dibalas secara pribadi pula (contohnya, apakah pengkritik bisa bikin lebih baik daripada yang dikritik)—meleset dari perkara semula.

Di sisi lain, bersamaan dengan gelombang “semua orang adalah juru foto”, kemajuan teknologi juga membawa gelombang “semua orang adalah pengkritik”—di dalam pengertian yang dipotong dan disederhanakan. Memakai ibu jari, “semua orang” bisa memfoto dan mengunggahnya ke media sosial dengan mudah. Melalui cara serupa dan sama mudahnya, “semua orang” dapat pula menyatakan kesukaan atau ketidaksukaannya—kritik yang demikian berjarak dari sikap kritis.

***

Membangun sikap kritis tidak bisa serta-merta, namun perlu bekal. Kita perlu kesabaran, agar tidak langsung menghakimi suka atau tidak suka, juga perlu wawasan, sebab fotografi tidak lepas dari jejaring wacana dan pengetahuan lain di luarnya. Sayangnya, pengertian ini kerap dianggap elitis, rumit, dan sulit, sehingga dijauhi. Padahal, tanpa pemahaman tersebut, fotografi jadi cuma teknik. Wawasan itu membantu kita melek visual, sebagai salah satu wujud dari berpikir kritis.

Di dalam menulis tentang fotografi selama setahun terakhir ini, saya mencoba mencatat sejumlah persoalan umum yang saya amati, khususnya seputar hal-hal yang nonteknis. Di dalam tulisan ini, saya mencoba mengunjungi kembali dan membincangkan pemikiran dan catatan saya di dalam tulisan-tulisan tersebut. Setiap tulisan yang terkini pada dasarnya merupakan pengembangan dari, dan saling berpaut dengan, sebuah gagasan yang telah disenggol di dalam tulisan yang terdahulu.

Sebagai permulaan, saya berupaya mendedahkan alasan saya menulis tentang fotografi. Niatan itu muncul dari dahaga yang saya rasakan, akibat kerontangnya percakapan fotografi yang nonteknis di balik banjirnya obrolan soal teknis. Kekeringan wacana ini menjadi salah satu sebab fotografi kita cenderung jalan di tempat. Banyak orang suka membuat foto, tetapi sedikit yang menggarap bidang lain, umpamanya kritik atau kurasi, yang berpijak pada keterampilan membaca foto.

Bekal membaca foto adalah keberaksaraan visual, yang lalu saya coba ulas di dalam tulisan selanjutnya. Melek visual berarti mengakrabi ungkapan, tanda, dan kesepakatan di dalam bahasa visual, sehingga kita cekatan memaknai apa yang kita lihat. Keakraban itu dibangun dengan memperkaya kosarupa dan wawasan sebagai rujukan. Sayangnya, kita malah lebih sering membicarakan bagaimana melakukannya ketimbang berusaha memperkaya wawasan tersebut.

Kurang cakapnya kita beraksara secara visual turut berdampak pada kurang lihainya kita berkisah secara visual, lewat foto tunggal apalagi foto jamak berangkai. Topik ini saya coba tuangkan ke dalam tulisan berikutnya dan saya untai dengan pengalaman saya mengikuti beberapa lokakarya fotografi. Juru foto perlu menghadirkan sudut pandang penceritaannya di dalam berdialog dengan mentor, editor, atau kurator—serta dengan pemirsa atau pengkritik nantinya.

Setelah beberapa kali saya sebutkan di dalam tulisan terdahulu, ihwal kurasi dan kurator (dan kritik) fotografi di Indonesia pun saya coba uraikan di dalam tulisan setelah itu. Saya membingkai perbincangan ini dengan sebuah pameran yang dilaksanakan dengan gaya berbeda di Yogyakarta dan Jakarta pada 2012. Saya singgung sedikit soal bagaimana kurator kedua pameran menyikapi isu kolonialisme di dalam materi pameran, yang memasukkan pula foto arsip (dari era) kolonial.

Di dalam tulisan yang mengikutinya, saya meneruskan percakapan tentang arsip, khususnya arsip foto keluarga, baik dari masa kolonial maupun pascakolonial, baik arsip temuan maupun koleksi museum. Saya mencoba mewedar, bahwa foto keluarga, yang dari luar tampak bersahaja, tidaklah lepas dari tarik ulur dengan narasi besar semangat zaman yang melatarinya. Seperti yang sudah-sudah, di dalam tulisan itu pun saya lebih banyak membicarakan wacana ketimbang teknik.

***

Kendati lebih banyak membicarakan wacana ketimbang teknik, bukan berarti saya menganggap teknik tidak penting di dalam soal membaca foto secara kritis. Sejarawan foto Alex Supartono pernah bercerita kepada saya, ketika dia belajar sejarah fotografi, gurunya menyuruh dia belajar memfoto terlebih dahulu. Alasan gurunya, dengan menguasai teknik, di dalam membaca foto, kita akan lebih memahami sudut pandang, pemikiran, dan pilihan juru foto secara kontekstual.

Praktik merupakan konteks bagi wacana, sebagaimana wacana menjadi latar di dalam meninjau praktik. Mengulas wacana belaka berisiko menjauhkan pengertian, sebagaimana mengupas teknik melulu dapat diibaratkan kulit tanpa isi. Saya mencoba membicarakan keduanya secara ulang-alik. Salah satunya mendapat porsi lebih banyak, sebab saya bermaksud mengimbangi obrolan teknis yang sudah rimbun dengan menyirami ladang gersang percakapan nonteknis pelan-pelan.

Membincangkan perihal wacana memang tidak semudah kedengarannya, namun bukan berarti mesti selalu rumit. Orang memiliki hikmat, yang dapat dijadikan pegangan di dalam menggali wawasan. Hikmat setiap orang berlain-lainan batasnya, sebab itu kita perlu mempelajari catatan cendekiawan terdahulu, sebagai peta untuk menuntun langkah kita. Catatan dan peta itu pun tidak mungkin lengkap, sehingga perlu ditambah dan ditambal dengan catatan dan peta lainnya.

Demikianlah, wacana bekerja dengan prinsip yang disebut intertekstualitas: Semua tanda (“teks”) saling meninggalkan dan mengikuti tapak pada suatu jejaring makna. Mengurai dan memahami wacana perlu bekal, agar kita dapat meneliti pertautan tanda dan makna dengan menelusuri jejak-jejaknya. Menulis, bagi saya, merupakan suatu cara untuk mencatat tilas itu, di samping juga sebagai sebuah usaha untuk mengerti—serta ada kalanya mempertanyakan dan mempersoalkan.

Segi lain yang turut membuat kritik fotografi di Indonesia sukar mekar adalah pendidikan. Di tengah zaman yang kian visual dan makin bergantung pada citra ini, pembelajaran kita masih saja didominasi teks. Kita dibiarkan bergantung pada diri sendiri untuk memperkaya wawasan, supaya dapat memproses gambar secara kritis, dengan cara menimbang beragam konteks, meningkatkan keberaksaraan visual, serta berpikiran terbuka dan mewawas diri—nyaris tanpa panduan.

Berkaca dari sejarah, kita perlu mempertanyakan rupa, menelaah apa yang sesungguhnya sedang kita lihat, dan mewaspadai cara pandang kita sendiri. Sebagai bangsa yang pernah dijajah, kita rentan mewarisi pola pikir dan tatapan kolonial—yang dapat diluaskan mencakup tatapan kulit putih terhadap kulit warna dan tatapan lelaki terhadap perempuan. Dekolonisasi, topik kajian yang sebetulnya tidak baru-baru amat, kini diluaskan pula untuk membongkar isu-isu tersebut.

Kita tidak dapat menerima sesuatu begitu saja tanpa memeriksanya dengan kritis, kendati hal itu sudah diterima umum. Justru hal-hal yang “sudah diterima umum” itulah yang biasanya kerap menyimpan persoalan. Zaman berubah, pengetahuan berkembang, dan pemahaman kita tentang dunia di sekitar kita ikut bergeser. Medan praksis dan wacana turut bertambah pelik. Kita perlu mencari ilmu dengan giat, guna menerangi kita di dalam menekuni fotografi dan budaya visual.

Kritik tidak bekerja dengan mencari-cari persoalan saja, meski juga tidak lantas senantiasa diberi beban untuk menunjukkan jalan keluar. Menuliskannya secara sederhana—tanpa terlampau menyederhanakannya—selalu menjadi tantangan. Menulis kritik seumpama mengupas lapisan-lapisan wacana secara relevan dan kontekstual. Akan menjadi sayang sekali jika kita membiarkan upaya membincangkan fotografi secara kritis terlanjur layu sebelum sempat berkembang.

***

Yang juga saya sayangkan adalah betapa industri fotografi condong mengabaikan kritik, bahkan tidak jarang menunjukkan gejala untuk menjadi antikritik. Beberapa tahun lalu, sewaktu masih aktif di media sosial, saya rajin memasang tautan artikel fotografi, termasuk yang berisi kritik terhadap berbagai kasus. Suatu ketika, seorang editor foto sebuah majalah menghubungi saya dan dengan nada menasihati, menyarankan agar saya berhenti memasang tautan-tautan kritik.

Saya masih ingat kata-kata editor itu. Kalau saya masih mau meniti karier sebagai juru foto dan ingin memfoto untuk media besar, seperti The New York Times atau National Geographic, katanya ketika itu, ada baiknya saya tidak lagi memasang tautan yang bersifat menggugat. Dia mengamati, ada sejumlah juru foto yang pernah memfoto untuk media besar lantas namanya tenggelam setelah turut menyoroti berbagai kasus, seperti penyelewengan wewenang dan pelecehan seksual.

Industri fotografi tidaklah imun terhadap kejadian-kejadian semacam ini. Sejumlah lembaga besar pernah tersangkut berbagai kasus. Ada beberapa media kenamaan yang editor fotonya terbukti menyalahgunakan kekuasaannya, ada beberapa agensi foto bergengsi yang anggotanya terbukti melakukan pelecehan seksual berulang kali, dan sebagainya. Bukannya menjadi vaksin yang mendorong perubahan dan perbaikan, kritik malah menjadi (baca: dijadikan) senjata makan tuan.

Mereka yang lantang bersuara memang lazimnya justru dikucilkan dan tidak lagi mendapatkan panggilan maupun penugasan. Pola serangan balik semacam ini membuat para penyintas kasus-kasus tersebut—juga pihak-pihak yang berempati dan mendukung mereka—kerap memilih diam, agar dapat mempertahankan karier dan penghidupannya. Yang dikritik sering memilih diam pula, seperti menunggu para pengkritik bosan dan masyarakat lama-lama melupakan kegaduhan itu.

Kritik yang terakhir ini menyangkut komunitas dan ekosistem fotografi, sehingga mungkin terasa tidak terkait dengan kritik yang saya jabarkan sebelumnya, yang lebih berkenaan dengan fotografi sebagai sebuah disiplin. Menurut pengertian saya, pegiat dan kegiatannya bukanlah dua hal yang saling lepas. Pada akhirnya, saya melihat fotografi sebagai praktik sosial, sekaligus menekankan, bahwa fotografi tidak hadir di ruang hampa, namun saling menyimpul dengan dunia di luarnya.

Yogyakarta, November 2021

Budi N.D. Dharmawan tinggal dan bekerja di Yogyakarta. Budi mengerjakan banyak hal, di antaranya meneliti, memfoto, menulis, menyunting, mengkurasi, juga menjadi pembicara dan mentor. Budi senang mengamati berbagai soal, terutama fotografi, jurnalisme, seni, sejarah, dan pendidikan.